BUMD Hengkang dari Proyek Gas Jambaran Tiung Biru

Suci Sedya Utami    •    Jumat, 09 Nov 2018 19:58 WIB
pertamina ep
BUMD Hengkang dari Proyek Gas Jambaran Tiung Biru
Dirut Pertamina EP Cepu Jamsaton Nababan. (FOTO: Medcom.id/Suci Sedya)

Jakarta: Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) berencana mundur dari pembangunan proyek utilisasi gas Jambaran Tiung Biru yang terletak di Bojonegoro, Jawa Timur.

Hal tersebut pun dibenarkan oleh PT Pertamina EP Cepu sebagai operator proyek tersebut. Namun meskipun BUMD tidak turut serta dalam proyek Jambaran Tiung Biru namun tidak menyalahi aturan yang ada.

"Di struktural Jambaran Tiung Biru mereka enggak ikut share, tapi secara blok besar, masih-bersama-sama, jadi enggak melanggar aturan yang ada karena bloknya masih utuh," kata Dirut Pertamina EP Cepu Jamsaton Nababan di kantornya, Jakarta Selatan, Jumat, 9 November 2018.

Jambaran Tiung Biru merupakan proyek unilisasi antara lapangan Jambaran dan lapangan Tiung Biru. Lapangan Jambaran terletak di Blok Cepu yang mana pengelolaannya dimiliki PT Pertamina EP Cepu 45 persen, Exxon Mobil 45 persen dan BUMD 10 persen. Sementara lapangan Tiung Biru dikelola 100 persen oleh PT Pertamina EP.

Langkah BUMD ini juga mengikuti Exxon Mobil yang melepas untuk ikut dalam proyek Jambaran Tiung Biru. Namun Exxon Mobil masih memiliki hak kelola (participating interest) di Blok Cepu.

"Jadi sebetulnya bukan juga pengurangan saham hanya enggak ikut berpartisipasi di Jambaran Tiung Biru. Jadi uangnya 100 persen dari Pertamina tapi hasilnya juga kembali 100 persen ke Pertamina," jelas Jamsaton.

Dengan mundurnya BUMD maka Pertamina mesti membayarkan investasi yang dikeluarkan BUMD yang tergabung dalam Badan Kerja Sama (BKS) Blok Cepu. Namun sampai saat ini pengembalian tersebut belum dibayarkan.

"Sedang dihitung bersama dengan BUMD," kata General Manager Jambaran Tiung Biru Bob Wikan H Adibrata.

Ketua BKS blok Cepu Ganesha Asyari mengatakan total nilai investasi yang harus dibayar Pertamina sesuai kesepakatan sebesar USD16,77 juta atau sekitar. Angka ini sebenarnya lebih kecil dari permintaan awal BUMD, yakni USD18 juta. Sementara total investasi di proyek tersebut mencapai USD1,547 miliar.

Nantinya investasi yang dikembalikan itu dibagi kepada masing-masing BUMD yang tergabung dalam BKS sesuai porsi kepemilikannya. Empat BUMD itu adalah Petrogas Jatim Utama Cendana (PJUC) dengan porsi 2,2423 persen, Sarana Patra Hulu Cepu (SPHC) 1,0910 persen, Asri Dharma Sejahtera (ADS) 4,4847 persen dan Blora Patragas Hulu (BPH) 2,1820 persen.


(AHL)