Terinspirasi Jokowi, Bos Adaro Terlintas Bikin Kompor Listrik

Annisa ayu artanti    •    Senin, 03 Dec 2018 16:12 WIB
adaro energykompor listrik
Terinspirasi Jokowi, Bos Adaro Terlintas Bikin Kompor Listrik
Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk (ADRO) Garibaldi Thohir. (FOTO: MI/Fetry)

Jakarta: Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk (ADRO) Garibaldi Thohir mengaku terlintas untuk memperbesar bisnisnya ke industri kompor listrik.

Hal itu diungkapkannya setelah Presiden Republik Indonesia Joko Widodo menyampaikan bahwa sebagian besar industri pertambangan telah melupakan hilirisasi.

Menurut dia kebanyakan industri pertambangan terlalu asyik berdagang atau mengekspor material mentah, sehingga nilai tambah dari produk-produk tambang dalam negeri menjadi kurang.

Pria yang kerap disapa Boy tersebut mengatakan saat ini perusahaannya sudah berekspansi bisnis dari pembangkit listrik. Menurutnya bisnis tersebut sudah termasuk hilirisasi karena listrik yang dihasilkan untuk menerangi masyarakat.

Namun untuk memperbesar nilai tambah dari hasil tambang, ia memiliki ide untuk membangun industri kompor listrik. Jika penggunaan kompor listrik masif dilakukan dapat mengurangi impor elpiji.

"Why not? Ini kan pemikiran. Saya terpacu. Bagaimana bisa meningkatkan peran serta kita dalam menekan impor," kata Boy ditemui di sela-sela acara CEO Networking 2018, di Kawasan SCBD, Jakarta, Senin, 3 Desember 2018.

Tak hanya mengurangi impor elpiji, lanjut Boy, penggunaan kompor listrik juga dinilai lebih aman, mudah, dan efisien. Ia mengatakan, banyak negara-negara maju sudah menggunakan kompor listrik ketimbang kompor gas.

"Kalau ada kompor listrik tidak perlu ada elpiji, apalagi untuk middle up. Lebih aman, lebih mudah, lebih bersih, kita belum biasa saja," tutur dia.

Jokowi mengultimatum pelaku usaha menjalankan hilirisasi industri. Hal ini dilakukan untuk memperkecil defisit transaksi berjalan. "Setop ekspor bahan mentah, kurangi ekspor bahan mentah. Bahwa dagang lebih enak dari industri tetapi ini untuk keperluan negara kita," kata Jokowi.

Kepala Negara ini tak ingin sumber daya alam Indonesia yang melimpah dijual dengan harga murah. Pasalnya, jika diolah, nilai dari produk itu bakal lebih tinggi.

Jokowi mencontohkan batu bara mentah yang diekspor 480 juta ton per tahun. Batu bara bisa diolah menjadi elpiji hingga avtur. Jika dihilirisasi, batu bara bisa mengurangi impor elpiji yang mencapai empat ton per tahun.

Nikel juga bernasib serupa. Indonesia, kata Jokowi, mengekspor jutaan ton nikel per tahun seharga USD30 per ton. Padahal, bila diolah menjadi feronikel, harganya bisa naik empat kali lipat.

 


(AHL)


Struktur BP Batam Dipastikan Tidak Berubah

Struktur BP Batam Dipastikan Tidak Berubah

33 minutes Ago

Struktur organisasi dari BP Batam dipastikan tidak berubah meski figur pemimpin dalam organisas…

BERITA LAINNYA