Mundur, Kontrak PPA PLTS Terapung Cirata Baru akan Diteken Januari 2018

Annisa ayu artanti    •    Kamis, 02 Nov 2017 15:58 WIB
plnplts
Mundur, Kontrak PPA PLTS Terapung Cirata Baru akan Diteken Januari 2018
PLTS Cirata. (FOTO: MTVN/Annisa Ayu)

Metrotvnews.com, Jakarta: PT PLN (Persero) menyatakan kontrak jual beli listrik (Power Purchase Agreement/PPA) Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung di Cirata akan mundur menjadi Januari 2018.

Direktur Perencanaan Strategis 1 PLN Nicke Widyawati menjelaskan, sampai saat ini anak usaha PLN yang mengurus pembangkit tersebut, -PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) dan Masdar, perusahaan asal Uni Emirat Arab- belum menentukan soal harga jual listrik yang dijual ke PLN pusat.

"Pada saat nanti ada acara renewable energy forum di Arab Saudi di awal tahun depan paling lambat PPA akan ditandatangani. Sejauh ini kita belum bicara harga baru komponen harga," jelas Nicke di Kantor Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis 2 November 2017.

Nicke menuturkan, ada beberapa faktor komponen harga yang masih dibicarakan. Salah satunya terkait intensitas cahaya matahari sebagai sumber energi pembangkit. Menurut dia, intensitas cahaya matahari di Indonesia berbeda dengan di Arab, sehingga harga listrik yang dihasilkan juga akan berbeda.

"Faktor lain energi solar di Indonesia 30 persen di bawah Arab Saudi. Jadi nanti juga tidak bisa semurah di sana. Itu kita pahami," ungkap dia.

Selain itu, faktor lainnya adalah insentif yang diberikan pemerintah. Nicke mengaku dalam pembangunan PLTS terapung ini perlu tambahan insentif seperti tax allowance.

"Kita juga bahas dengan Pak Lembong (Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal/BKPM), ini akan dibahas lanjut ada tax allowance," ucap dia.




Dengan demikian, pihaknya baru bisa menargetkan pelaksanaan PPA dilakukan pada awal 2017 dalam acara Renewable Energy Forum di Arab Saudi.

"Targetnya akan kita tanda tangan HoA itu di November dan pada saat nanti ada acara Renewable Energy Forum di Arab Saudi di awal tahun depan, paling lambat PPA akan ditandatangani. Sejauh ini kita belum bicara harga baru komponen harga. Kita usahakan paling lambat 3 Januari," ungkap dia.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar juga sebelumnya mengatakan dalam kunjungan kerja ke Uni Emirate Arab (UEA), ia juga bertemu dengan Masdar. Saat itu mereka membicarakan mengenai PLTS terapung Cirata. Namun, memang harganya masih belum kompetitif.

"Harganya masih belum kompetitif," kata Arcandra.

Sebelumnya, Nicke berharap harga listrik dari PLTS Terapung ini di kisaran USD6 sen hingga USD7 sen per kWh. Harga ini dihitung dengan mempertimbangkan proses pembangunan pembangkit yang tidak membutuhkan waktu panjang untuk membebaskan lahan.

Sementara, Masdar biasa membuat PLTS yang menghasilkan listrik dengan harga jual hanya USD2,99 sen per kWh atau jauh lebih murah dibanding PLTS di Indonesia yang bisa mencapai USD15 sen per kWh.


(AHL)