Pertamina Rela Beli Mahal Minyak Ilegal

Suci Sedya Utami    •    Selasa, 05 Feb 2019 05:30 WIB
pertamina
Pertamina Rela Beli Mahal Minyak Ilegal
Pertamina. MI/SAFIR MAKKI.

Jakarta: PT Pertamina (Persero) rela untuk mengeluarkan kocek yang lebih tinggi untuk membeli minyak mentah hasil produksi kegiatan pengeboran dan penyambungan pipa secara ilegal (illegal drilling dan Illegal tapping) warga di sumur tua yang sebelumnya digarap Pertamina.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan pihaknya turut berkontribusi untuk membenahi permasalahan illegal drilling dan illegal tapping. Dia bilang Pertamina dimungkinkan untuk melakukan kerja sama dengan badan usaha milik daerah (BUMD) dan koperasi unit desa (KUD).

"Total ada enam KUD dan enam BUMD," kata Nicke di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin, 4 Februari 2019.

Nicke mengatakan Pertamina harus membeli minyak mentah yang telah diproduksi. Adapun volumenya mencapai 1.444 barel minyak per hari.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Hulu Pertamina Dharmawan Samsu mengatakan Pertamina mesti membeli dengan harga 70 persen per barel dari harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Oil/lCP). Menurut Dharmawan harga tersebut lebih mahal.

"Kalau yang melalui kerja sama dengan BUMD dan KUDitu minyaknya dibeli oleh Pertamina dengan harga 70 persen dari ICP. Jadi mahal sekali. Kalau lCP-nya USD70, 70 persennya berapa tuh? Besar sekali dibanding kalau kita produksikan sendiri," tutur Dharmawan.

Meski demikian perseroan tetap mau mengeluarkan dana yang lebih tinggi. Dirinya beralasan hal tersebut dilakukan sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat agar sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku.

Tidak hanya harua menanggung beban membeli dengan harga yang lebih tinggi, namun Pertamina juga harua menanggung biaya untuk membina para pelakunl kegiatan ilegal. Hal tersebut disampaikan oleh Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto.

"Kalau masyarakat lakukan sendiri dari sisi safety bisa bahayakan. Kalau kerjasama dengan Pertamina, Pertamina yang keluarkan biaya untuk membimbing membina sehingga safety," jelas Djoko.



(SAW)