Biaya Politik Tinggi

Jokowi Diyakini Tidak Naikkan Harga BBM

Angga Bratadharma    •    Kamis, 31 Jan 2019 16:07 WIB
jokowi-jkharga bbm
Jokowi Diyakini Tidak Naikkan Harga BBM
Illustrasi. MI/Panca S.

Jakarta: Harga minyak dunia sekarang ini belum menunjukkan kenaikan signifikan terlebih usai Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) memutuskan untuk memangkas produksi guna menjaga stabilitas. Apabila ada skenario harga minyak dunia naik, diyakini tidak akan diikuti oleh kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia

"Saya berani bertaruh ketika ada kenaikan harga minyak dunia saya yakin Pak Jokowi tidak akan menaikkan harga BBM, minimal sampai 17 April (2019). Hal itu karena ada efek dominonya," kata Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi, di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis, 31 Januari 2019.

Ia memberikan contoh ketika beberapa waktu lalu harga BBM dinaikan oleh pemerintah dan diumumkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jonan yang kemudian dianulir. Keputusan tersebut dinilai wajar karena terdapat biaya politik yang harus ditanggung Presiden Jokowi.

"Ada efek domino. Itu karena kenaikan harga BBM ada biaya politik yang tinggi," ujarnya.

Untuk diketahui, harga minyak terus menguat pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB), didukung oleh peningkatan persediaan minyak mentah AS yang lebih lemah dari perkiraan para analis dan pernyataan pertemuan kebijakan terbaru Federal Reserve menekan dolar Amerika Serikat (USD).

Minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret naik USD0,92 menjadi menetap pada USD54,23 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Maret naik USD0,33 menjadi ditutup di USD61,65 per barel di London ICE Futures Exchange. 

Persediaan minyak mentah komersial AS naik 0,9 juta barel dari minggu sebelumnya, menurut laporan mingguan terbaru Badan Informasi Energi AS (EIA). Angka tersebut jauh dari ekspektasi para analis untuk kenaikan 3,2 juta barel, menurut sebuah jajak pendapat.

Selain itu, impor minyak mentah AS rata-rata mencapai 7,1 juta barel per hari (bph) pekan lalu, turun 1,11 juta barel per hari dari minggu sebelumnya. Minyak berjangka naik bersama dengan saham-saham minyak setelah Federal Reserve menjanjikan kesabaran dalam pembuatan kebijakan di masa depan tentang penyesuaian suku bunga acuannya.


(SAW)