Produksi dan Ekspor Freeport Merosot Tajam di 2019

Suci Sedya Utami    •    Rabu, 09 Jan 2019 20:49 WIB
freeportekonomi indonesia
Produksi dan Ekspor Freeport Merosot Tajam di 2019
Freeport Indonesia. Dok: MI.

Jakarta: Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan produksi PT Freeport Indonesia diperkirakan menurun di 2019 sejalan dengan adanya transisi dari tambang Grasberg ke tambang bawah tanah.

Direktur Mineral Yunus Saefulhak mengatakan tahun lalu realisasi produksi bijih tembaga mentah atau ore mencapai 270 ribu ton per hari dengan jumlah produksi konsentratnya mencapai 2,1 juta ton dalam setahun. 

Dari produksi konsentrat tersebut sebanyak 1,2 juta ton diperuntukan untuk ekspor sedangkan 800 ribu tonnya disalurkan ke PT Smelting Gresik untuk dilakukan pemurnian dan pengolahan.

"Untuk tahun ini berdasarkan RKAB (rencana kerja dan anggaran biaya) yang diajukan terjadi penurunan produksi," kata Yunus di Ditjen Minerva, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu, 9 Januari 2019.

Yunus merunci produksi konsentrat Freeport tahun ini diperkirakan hanya 1,2 juta ton. Dari jumlah tersebut 200 ribu ton akan diekspor dan satu juta ton akan diolah di PT Smelting Gresik. 

Sebelumnya Ditjen Minerba Bambang Gatot Ariyono juga mengatakan mengatakan penghasilan PT Freeport Indonesia tahun ini diperkirakan akan mengalami penurunan.

Bambang menjelaskan penurunan tersebut dikarenakan Freeport Indonesia harus melakukan transisi kegiatan penambangan dari sebelumnya di Tambang Grasberg ke tambang bawah tanah. Peralihan tersebut membuat produksinya diperkirakan menurun dan berujung pada penghasilan. 

"Turun dibandingkan dari 2018 jadi Ebitdanya atau revenue-nya turun karena Tambang Grasberg mulai berkurang," kata Bambang.

Bambang mengatakan menurut perkiraan PT Inalum sebagai pemilik saham mayoritas Freeport Indonesia, penurunan Ebitdanya dari USD4 miliar menjadi kurang lebih USD1 miliar.

Kendati demikian dia menambahkan penurunan pendapatan tidak akan berlangsung lama. Sebab setelah 2020 diyakini transisi selesai dan kegiatan tambang bawah tanah berjalan penuh sehingga produksi akan kembali meningkat.



(SAW)


Menperin Sampaikan Kesiapan Revolusi Industri 4.0 di Swiss
World Economic Forum 2019

Menperin Sampaikan Kesiapan Revolusi Industri 4.0 di Swiss

7 hours Ago

Menteri Perindustrian (Menperin) Airlangga menegaskan Indonesia siap menyongsong era revolusi i…

BERITA LAINNYA