Finlandia Tertarik Bergabung di Pengembangan EBT Indonesia

Ilham wibowo    •    Selasa, 09 Oct 2018 12:42 WIB
energi terbarukan
Finlandia Tertarik Bergabung di Pengembangan EBT Indonesia
Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Pembangunan Finlandia, Anne-Mari Virolainen (kiri), Menteri ESDM Ignasius Jonan (kanan) -- Foto: Medcom.id/ Ilham Wibowo

Jakarta: Pemerintah Finlandia mengaku tertarik dengan pengembangan program energi terbarukan yang tengah digarap Indonesia. Teknologi ramah lingkungan bakal diterapkan sekaligus dalam meminimalkan tarif penggunaan.

Menteri Perdagangan Luar Negeri dan Pembangunan Finlandia, Anne-Mari Virolainen mengatakan ketertarikan ini merupakan kelanjutan dari jalinan kerja sama pengembangan energi di Tanah Air sejak 2015. Menurutnya, energi terbarukan bakal menjadi potensi tulang punggung perekonomian modern.

"Kami ingin memastikan energi dapat diproduksi secara berkelanjutan dan bersih, serta dalam penggunaan produk energi," ujar Anne dalam Indonesia-Finlandia Business Forum di Ruang Sarulla, Sekretariat Jenderal Kementerian ESDM, Selasa, 9 Oktober 2018.
 
Anne melanjutkan, pihaknya juga tertarik melakukan transfer teknologi dengan pemerintah Indonesia dalam pengembangan energi terbarukan. Pengembangan teknologi di Finlandia saat ini diklaim yang terbaik dengan biaya paling minim di Eropa.

"Kami memiliki pengalaman yang berbeda dengan kerja sama lainnya dengan Indonesia. Kami mencoba untuk membangun rantai pasokan internasional jika memungkinkan," tuturnya.

Sementara itu, Menteri ESDM Ignasius Jonan menuturkan penerapan energi terbarukan untuk menggantikan 23 persen dari seluruh kebutuhan energi nasional pada 2025 telah dijalankan. Namun, kebijakan penetapan tarif hasil produk di masyarakat tetap menjadi poin penting untuk bisa bersaing dengan pemanfatan energi lama.

"Secara realistis kami tetap tumbuh untuk mencapai target tersebut, meski langkah kita tidak mudah. Finlandia punya tarif kelistrikan paling murah di Eropa," ungkapnya.

Penerapan program penggunaan solar dengan campuran biodiesel bahan baku kelapa sawit sebanyak 20 persen atau B20 juga telah dilakukan. Pemanfaatan sektor nabati ini dinilai bakal menekan konsumsi bahan bakar fosil yang sebagian masih impor.

"Ini tantangan dalam dalam isu logistik transportasi, tapi kita harap sektor energi terbarukan juga ada pada kendaraan agar bisa tercapai," ucap Jonan.

Tak hanya itu, penerapan kebijakan dalam penggunaan bahan bakar pembangkit listrik juga tengah berjalan. Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah diminta mengkonversi mesin diesel agar bisa 100 persen mengunakan bahan bakar dari kelapa sawit.

"Komitmen pengurangan emisi hingga 29 persen pada 2030 merupakan tujuan kita. Ini tidak mudah, tapi kami mencoba untuk memperkenalkan inisiatif itu ke publik," tandasnya.





 


(Des)


Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

Solusi Rangkap Jabatan BP Batam Dinilai Melanggar UU

2 days Ago

Keputusan pemerintah melebur BP Batam ke Pemerintah Kota Batam mendapat respons dan tanggapan b…

BERITA LAINNYA