Masyarakat Beralih ke e-Commerce Bikin Penjualan Listrik 2017 Turun

Annisa ayu artanti    •    Selasa, 19 Sep 2017 15:46 WIB
tarif listrike-commerce
Masyarakat Beralih ke <i>e-Commerce</i> Bikin Penjualan Listrik 2017 Turun
Ilustrasi. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Metrotvnews.com, Jakarta: PT PLN (Persero) mencatat pergeseran pola belanja masyarakat dari berbelanja secara langsung di pusat perbelanjaan ke sistem belanja via daring atau e-commerce. Ini menjadi salah satu penyebab terjadinya penurunan penjualan tenaga listrik pada 2017.

Direktur Bisnis Maluku dan Papua PLN Ahmad Rofiq mengungkapkan penurunan penjualan listrik terjadi pada semua golongan pelanggan. Tercatat hingga Agustus 2017 pertumbuhan penjualan listrik hanya 2,8 persen atau lebih rendah dari tahun sebelumnya yang mencapai 6,49 persen.

Salah satu yang penyebab penurunan penjualan listrik yang menarik adalah berpindahnya pola belanja masyarakat yang menyebabkan penjualan tenaga listrik golongan bisnis mengalami penurunan.

"Ada perilaku konsumen dalam berbelanja mulai bergeser ke e-commerce pakai online. Jadi ada beberapa shopping center yang mulai sepi. Yang itu terjadinya penurunan pemakaian listrik untuk pelanggan bisnis," kata Rofiq dalam konferensi pers di Kantor Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Selasa 19 September 2017.

Rofiq menyebutkan beberapa contoh pusat perbelanjaan di DKI Jakarta yang mengalami penurunan pemakaian listrik yaitu mal Grand Indonesia, mal Senayan City, dan mal Gandaria City. Untuk mal Grand Indonesia mengalami penurunan 1,59 persen dari pemakaian biasanya.

"Di Grand Indoensia terjadi penurunan pemakaian listrik sebesar 1,59 persen, Gandaria City, Senayan City, dan beberapa industri juga yang mengurangi pemakaian listriknya," ucap dia.

Selain pergeseran pola belanja masyarakat yang menjadi penyebab penurunan penjualan konsumsi listrik, penyebab lainnya adalah penggunaan lampu hemat energi dan Fotovoltaik juga memicu penurunan penjualan listrik.

"Jadi untuk R1-sampai 1.300 kebanyakan rumah tangga menggunakan lampu hemat energi seperti seperti LED. kemudian untuk pelanggan di atas 1.300 beberapa sudah ada kecenderungan menggunakan voltovoltype. Itu berpotensi mengurangi beban minimal per bulan sebesar Rp59.371 kwh," jelas dia.

Rofiq juga menambahkan, penyebab lainnya berasal dari pelanggan industri, pertumbuhan penjualan listrik golongan industri tercatat hanya 2,2 persen. Ada kendala dari kondisi pasar yang mana masuknya barang-barang impor yang berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Mei mencapai 15,6 persen. Hal tersebut menjadi tekanan terhadap produk dalam negeri yang merembet kepada konsumsi listrik industri.

"Kemudian ada impor barang jadi dan setengah jadi sebesar 15,6 persen dari data BPS jadi industri menghadapi tekanan produk dari luar negeri yang menyebabkan penurunan konsumsi listrik," tutup dia.


(AHL)

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

1 day Ago

Federal Reserve AS atau bank sentral AS pada akhir pertemuan kebijakan dua harinya pada Rabu wa…

BERITA LAINNYA