Tarif Listrik Mahal

Wamen Arcandra: Banyak Orang Salah Persepsi soal Nuklir

Annisa ayu artanti    •    Kamis, 19 Apr 2018 11:15 WIB
listriknuklirenergi terbarukan
Wamen Arcandra: Banyak Orang Salah Persepsi soal Nuklir
Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)

Jakarta: Pemerintah masih mempertimbangkan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) diterapkan di Indonesia. Hal ini menyusul banyak kalangan yang mengimbau penggunaan tenaga nuklir terkait harga listrik yang dinilai mahal.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengaku banyak orang salah paham bahwa listrik yang dihasilkan dari PLTN cukup murah, tetapi nyatanya tarif listrik yang dihasilkan PLTN masih jauh di atas pembangkit yang beroperasi saat ini.

"Coba kita lihat, lebih murah nuklir atau (pembangkit lain). Sebagian kita salah persepsi bisa 6 sen per kWh. Nuklir itu (tarif) 14 cent per kWh," sebut Arcandra di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Kamis, 19 April 2018.

Dirinya pun sudah membandingkan dan berdiskusi langsung kepada pemain pembangkit nuklir kelas dunia yaitu Rosatom dari Rusia. Rosatom mengatakan tarif listrik yang dihasilkan dari PLTN sekitar 12 sen per kWh.

"Saya cek realita lapangan dengan Rosatom, saya tanya 'berapa kamu bisa memproduksi nuklir power plant', dia katakan 12 sen (per kWh)," ujar dia.

Namun demikian Arcandra menegaskan ini bukan hanya masalah harga, pengembangan energi nuklir di Indonesia juga memiliki banyak tantangan. Akan tetapi ia tidak merinci tantangan-tantangan tersebut.

"Belum lagi kita punya tantangan lain di nuklir," ucap dia.

Kendati demikian ia menegaskan pemerintah tetap sejalan dengan hasil COP 21 di Paris untuk terus mengembangkan penggunaan green energy seperti energi baru terbarukan. Hanya saja untuk saat ini nuklir bukan solusi utama.

"Pemerintah komit dalam EBT, tapi harus ada strateginya," pungkas dia.

 


(AHL)


Perang Dagang AS-Tiongkok Tidak Pengaruhi Ekspor Indonesia

Perang Dagang AS-Tiongkok Tidak Pengaruhi Ekspor Indonesia

3 hours Ago

Perang dagang yang kini tengah berkecamuk antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok secara langs…

BERITA LAINNYA