Menko Luhut: Valuasi Saham Freeport Diserahkan ke Pasar

Desi Angriani    •    Senin, 09 Oct 2017 17:04 WIB
freeport
Menko Luhut: Valuasi Saham Freeport Diserahkan ke Pasar
Tambang Freeport di Papua. ANT/Puspa Perwitasari.

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah memastikan tak ada kendala dalam negosiasi divestasi 51 persen saham PT Freeport Indonesia meski hitungan nilai penjualan saham masih belum rampung.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan harga saham yang dilepas Freeport nantinya mengacu ke harga pasar atau fair market value. Nilai estimasi harga saham 51 persen dari hitungan PTFI adalah USD8,1 miliar atau Rp110 triliun.

"Freeport tak ada masalah saya pikir, paling nanti kalau mereka namanya 51 persen kan sudah pasti tuh. Kita biarkan market yang melakukan valuasi apakah kira-kira USD8 miliar pokoknya kita lakukan secara transparan dan profesional," ucap Luhut di Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Senin 9 Oktober 2017.

Luhut menuturkan, perhitungan harga saham akan diserahkan kepada penilai independen yang mengikuti harga pasar seperti Bursa Efek Indonesia atau Indonesia Stock Exchange (IDX). Penilaian saham tersebut nantinya berdasarkan nilai produksi tambang Freeport.

"Kita suruh market stock exchange untuk memvalue," imbuhnya.

Meski demikian, negosiasi harga divestasi dengan perusahaan tambang asal Amerika Serikat itu kata Luhut, tak bisa rampung dalam waktu dekat. Dalam negosiasi saja Freeport meminta masa izin perpanjangan kontrak berlaku hingga 2041. 

"Tinggal  kapan 51 persen terjadi, tidak  mungkin dalam waktu terlalu cepat kita juga repot mungkin 5 tahun nanti kita lihat. Kontrak dia kan sampai 2021 ditambah lagi 10 tahun jadi 2031 dan tambah 10 tahun lagi jadi 2041," tutup mantan Menkopolhukam ini.

Sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengatakan, pemerintah masih menginginkan mekanisme pelepasan saham perusahaan tersebut melalui jalur penerbitan saham baru atau right issue dan tidak melalui pencatatan di bursa saham (Initial Public Offering/IPO). 

"Tidak. Tidak," tegas Rini. 


(SAW)