Realisasi Ekspor Mineral Mentah Nikel Ore dan Bauksit Rendah

Annisa ayu artanti    •    Rabu, 27 Dec 2017 21:04 WIB
ekspor minerba
Realisasi Ekspor Mineral Mentah Nikel Ore dan Bauksit Rendah
Ilustrasi lahan tambang. (FOTO: MI/Panca Syurkani)

Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi ekspor mineral mentah nikel ore dan bauksit masih rendah dari rekomendasi yang dikeluarkan.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, rekomendasi ekspor yang telah dikeluarkan oleh KESDM sampai dengan 30 November 2017 untuk komoditas nikel 14 perusahaan sebesar 22,9 juta ton. Namun sampai dengan 30 November 2017 realisasi ekspor bijih nikel kadar rendah baru mencapai tiga juta ton.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu bara Kementerian ESDM Bambang Gatot mengatakan tidak tercapainya rekomendasi itu karena adanya kewajiban-kewajiban yang tidak terpenuhi oleh perusahaan. Termasuk mengenai masalah lingkungan.

"Itu realisasinya masih kecil, hanya 3,07 juta ton realisasi ekspornya. Memang tidak mudah karena ada kewajiban-kewajiban termasuk mengenai lingkungan yang harus dipatuhi," kata Bambang di Kantor Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu, 27 Desember 2017.

Sedangkan untuk komoditas bauksit rekomendasi ekspor telah diberikan kepada enam perusahaan dengan jumlah rekomendasi sebesar 14,9 juta ton dan realisasi sampai dengan 30 November 2017 sebesar 696 ribu ton.

"Untuk bauksit ada enam. Ini semuanya yang dapat rekomendasi. Rekomendasinya 14,9 juta ton. Tapi realisasinya baru 696 ribu ton," sebut dia.

Meski kewajiban ekspor harus dipenuhi sesuai dengan rekomendasi, ia menambahkan, jika tidak mencapai target kuota tersebut tidak bisa di carry forward untuk kuota periode berikutnya.

"Jika sampai batas waktu, setahun (saat pemberian ekspor), kegiatan ekspor mereka belum mencapai target, maka kuota tersebut tidak bisa di-carry forward. Salah mereka kenapa tidak bisa memanfaatkan," jelas dia.

Di sisi lain, pemerintah juga meyakini bahwa rekomendasi kuota ekspor kedepan akan bertambah. Sebab perusahaan tambang akan meminta penambahan volume rekomendasi ekspor.


(AHL)