Harga Avtur Pertamina Disebut Sudah Kompetitif

Husen Miftahudin    •    Selasa, 12 Feb 2019 12:14 WIB
bumnpertaminakementerian bumnAvtur
Harga Avtur Pertamina Disebut Sudah Kompetitif
Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno - - Foto: Medcom.id/ Husen Miftahudin

Jakarta: Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menyebut harga avtur PT Pertamina (Persero) yang dijual untuk maskapai penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta sudah kompetitif. Bahkan, harga bahan bakar pesawat itu terus mengalami penurunan sejak November 2018.

"Harga avtur sekarang posisinya turun terus sejak November lalu. Saya sampaikan bahwa harga avtur di Indonesia, khususnya di Soekarno-Hatta sangat kompetitif. Kita hanya nomor tiga di Asia Tenggara," kata Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa, 12 Februari 2019.

Harry pun tidak mengetahui rencana pemanggilan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati oleh Presiden Joko Widodo. Namun soal sepinya penumpang pesawat, menurut Harry, lebih disebabkan oleh kenaikan tarif tiket pesawat.

"Kalau soal penumpang ada hubungannya dengan harga tiket. Kalau hubungan dengan sepinya hotel, saya enggak tahu tuh, kejauhan kali yah," tukasnya.

Pertamina sebelumnya diduga memonopoli harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta. Kondisi itu merembet ke banyak persoalan, mulai dari kenaikan tarif tiket pesawat, penurunan jumlah penumpang maskapai penerbangan domestik, hingga anjloknya hunian hotel.

Dugaan kecurangan yang dilakukan perusahaan pelat merah itu membuat Presiden Jokowi berencana memanggil Dirut Pertamina, Nicke Widyawati. "Karena harga avtur itu menyangkut 40 persen dari biaya yang ada di tiket pesawat. Besok (Selasa) saya panggil saja (Pertamina)," ungkap Jokowi, Senin malam, 11 Februari 2019.

Sementara, Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengatakan penaikan harga tiket pesawat membuat okupasi hotel berbintang menurun hingga 40 persen pada awal tahun ini. "Pertamina tidak boleh memonopoli penjualan avtur. Harus ada perusahaan lain yang menjual avtur," ujar Hariyadi.
 
Akibat avtur dimonopoli Pertamina, sambung Hariyadi, maskapai menaikkan harga tiket pesawat. Ia juga menyebut Garuda Indonesia dan Lion Air terindikasi melakukan praktik kartel dalam penetapan harga tiket.
 
"Praktik dari Garuda dan lain-lain ini sudah mengarah ke kartel, karena tinggal berdua. Ini yang menurut pandangan kami adalah persaingan yang tidak sehat," pungkas Hariyadi.

 


(Des)