APBNP Tidak Naik, PLN Efisiensi Keuangan

Kautsar Widya Prabowo    •    Selasa, 10 Jul 2018 22:44 WIB
pln
APBNP Tidak Naik, PLN Efisiensi Keuangan
Illustrasi. ANT/Agung Rajasa.

Jakarta: PT PLN (Persero) akan melakukan efesiensi terhadap keuangan menyusul keputusan pemerintah yang tidak melakukan perubahan anggaran pendapatan belanja negara. Pasalnya subsidi listrik dapat membengkak, lantaran kenaikan harga minyak mentah dunia dan batu bara.

Direktur Keuangan PT PLN Sarwono Sudarto tidak mengambil pusing terkait keputusan tersebut, lantaran saat ini anggaran subsidi APBN 2018 Rp52,66 triliun belum terpakai semuanya.

"(Kuota subsidi) masih, tapi kan kami tunggu sampai akhir tahun. Kami tunggu sampai diaudit BPK. Tahun lalu misalnya kan Rp52 triliun, ternyata Rp51 triliun kan cukup. Tapi kita tidak sampai akhir tahun berapa," ujarnya di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Selasa, 10 Juli 2018.

Ia menambahkan beberapa cara dilakukan untuk efisiensi di berbagai sektor untuk menekan pengeluaran, seperti zonasi transportasi, dimana perusahaan berplat merah tersebut memetakan lokasi pembangkit listrik tenaga batu bara dengan lokasi tambang.

"Katakanlah pembangkit kita di daerah Sumatera atau di Jawa, kita ambilnya yang paling dekat di mana, tambangnya dari mana, itu termasuk zonasi transportasi," tambahnya.

Selain itu efesiensi dapat dilakukan dengan pemeliharaan batu bara dengan melihat kebutuhan penggunaan batu bara dalam setiap wattnya. "Setiap kilowatt itu sebetulnya memakan batu bara berapa. Jadi efisiensi banyak kita lakukan, sejauh ini masih under control," tuturnya.

Lebih lanjut, pihaknya memastikan pihaknya tetap memberikan subsidi listrik kepada masyarakat menengah kebawah. Sedangkan terkuat besaran anggaran subsidi yang diprediksikan melebihi yang sudah ditetapkan APBN, pihaknya masih menunggu audit final dari BPK.

"Pokoknya gini, subsidi listrik itu finalnya setelah udit BPK, kami tidak bisa mutusin sekarang. Kalau tahun lalu sudah selesai, 2017. Kalau 2018 akan tahu setelah audit BPK. Misalnya (subsidi pada APBN) Rp50 (triliun), ternyata nanti Rp52 (triliun), ya tambah dua," pungkasnya.


(SAW)