Akibat Kebocoran Pipa, 40 ribu Barel Minyak Mentah Terbuang di Laut Balikpapan

Annisa ayu artanti    •    Selasa, 10 Apr 2018 21:16 WIB
minyak mentah
Akibat Kebocoran Pipa, 40 ribu Barel Minyak Mentah Terbuang di Laut Balikpapan
Illustrasi. Dok:AFP.

Jakarta: PT Pertamina (Persero) menaksir akibat insiden kebocoran pipa beberapa pekan lalu di wilayah kilang Balikpapan, 40 ribu barel minyak mentah (crude oil) sudah terbuang ke lautan.

Direktur Pengolahan Pertamina Toharso mengatakan perseroan menaksir sebanyak 40 ribu barel minyak air yang terbuang di sekitar perairan teluk Balikpapan. Saat ini pihaknya masih melakukan investigasi lanjutan terhadap insiden tersebut.

"Volume tumpahan belum dihitung secara detail tapi indikasinya sekitar 40 ribu barel, kurang lebih. Tapi detailnya nanti tunggu investigasi," kata Toharso di Komplek Parlementer Senayan, Jakarta, Selasa, 10 April 2018.

Lebih lanjut, terkait kinerja kilang Balikpapan terhadap insiden tersebut Toharso mengungkapkan operasional kilang sempat berhenti beberapa hari. Pasokan minyak mentah yang tadinya dipasok dari Terminal Lawe-Lawe pun digantikan dari kapal tanker.

"Kilang ini, begitu (pipa) terputus, pasti tidak ada pasokan dari Lawe-lawe. Paling besar sumbernya (crude untuk Balikpapan) itu dari Lawe-lawe. Untuk kilang itu kita sumbernya dari Lawe-lawe dan tanker, masuk jetty," jelas dia.

"Kita gunakan stok lima hari yang di kilang, jadi masih bisa bernafas. Lalu ditambah lagi dari tanker, baru kami sambung, jumper pipa yang ada,"  tambah dia.

Terhentinya pasokan minyak mentah itu sangat mempengaruhi kegiatan di kilang Balikpapan. Toharso menyebutkan aktivitas kilang menurun hingga 70 persen selama kurang dua hari.

Padahal dalam kondisi normal, kilang Balikpapan bisa mengolah minyak mentah dengan kapasitas mencapai lebih dari 200 ribu barel per hari (bph). Dari kejadian ini kemampuan kilang Balikpapan menjadi hanya kurang dari 200 ribu bph.

"Hanya dua hari paling. Habis itu normal. 70 persen dari kapasitas kilang 260 ribu bph berarti sekitar 185 ribu bph. Kalau produksi normal kan di atas 200, ribuan. Hanya dua hari saja," ungkapnya.

Toharso menambahkan, Pertamina saat ini langsung memperbaiki seluruh sistem. Pertamina memasang sistem Emergency Response System (ERS) bisa lebih optimal. "Ketika begitu ketika pressure turun, jadi begitu pressure turun, dia langsung block, kita sudah desain untuk pakai itu," pungkas dia.

 


(SAW)