Harga Beli Mayoritas Saham Freeport Dinilai Terlalu Mahal

Suci Sedya Utami    •    Jumat, 13 Jul 2018 15:44 WIB
freeportinalum
Harga Beli Mayoritas Saham Freeport Dinilai Terlalu Mahal
Pengamat Pertambangan dari Universitas Tarumanegara (Untar) Achmad Redi (kedua dari kiri). (FOTO: MI/Adam Dwi)

Jakarta: Pengamat Pertambangan dari Universitas Tarumanegara (Untar) Achmad Redi berpandangan nilai transaksi yang harus dikeluarkan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) untuk membeli saham mayoritas PT Freeport Indonesia (PTFI) sebesar USD3,85 miliar terlalu bombastis.

Apalagi, kata Redi, menuju kepemilikan saham 51 persen terdapat juga di dalamnya bagian saham milik Rio Tinto sebanyak 40 persen yang dibeli melalui participating interest.

"Dengan harga konversi participating interest Rio Tinto 40 persen, menurut saya cenderung mahal dan bombastis," kata Redi pada Medcom.id, Jumat, 13 Juli 2018.

Redi mengatakan dalam penetapan nilai tersebut perhitungannya belum lah jelas. Dirinya mengira perhitungan tersebut sekaligus memasukkan rencana investasi PTFI hingga 2041. Padahal kontrak PTFI akan habis pada 2021.

"Harusnya dalam perhitungan terkait investasi yang sudah dikeluarkan oleh Freeport sampai 2021 saja," ujar dia.

Lebih lanjut Redi menilai dalam kesepakatan harga tersebut tidak ada upaya pemerintah untuk melakukan tawar menawar harga, sebab harga tersebut merupakan harga yang diajukan induk usaha PTFI Freeport McMoRan.

"Pemerintah tidak bisa negosiasi itu," pungkas dia.

 


(AHL)