Indonesia-Tiongkok Teken MoU Payung Hukum Investasi Kedua Negara

Annisa ayu artanti    •    Senin, 13 Nov 2017 12:29 WIB
indonesia-tiongkok
Indonesia-Tiongkok Teken MoU Payung Hukum Investasi Kedua Negara
Suasana kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok (Foto: MTVN/Annisa Ayu Artanti)

Jakarta: Pemerintah Indonesia dan Tiongkok melakukan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) payung hukum atas kerja sama dan berinvestasi dibidang energi kedua negara. Adapun kerja sama ini diharapkan memberi keuntungan bagi masing-masing pihak.

Penandatanganan dilakukan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan dengan Administrator National Energy Administration (NEA) Republik Rakyat Tiongkok (RRT), H.E. Nur Bekri pada acara The 5th Indonesia-China Energy Forum (ICEF V).

Dalam sambutannya, Jonan menyampaikan, Indonesia sangat terbuka bagi para investor luar negeri yang ingin berinvestasi di Indonesia. Termasuk, perusahaan-perusahaan Tiongkok yang berinvestasi di sektor hulu migas, mineral dan batu bara, ketenagalistrikan, dan pengembangan energi baru terbarukan.

"Sesuai dengan semangat One Belt One Road. Kami akan diskusikan kerja sama lebih mendalam tentang energi listrik dan pertambangan hari ini. Saya percaya dalam peningkatan kerja sama akan menghasilkan masing-masing negara dan badan usaha sama-sama menguntungkan," kata Jonan, di Hotel JW Marriott, Kuningan, Jakarta, Senin 13 November 2017.

Dalam meningkatkan investasi dan kerja sama kedua negara, Jonan menyebutkan, kedua pihak juga telah melaksanakan pertemuan bilateral dalam working group yang diadakan sejak 11-13 November 2017.  Terdapat dua working group, yaitu minyak, gas bumi dan batu bara serta energi baru terbarukan dan ketenagalistrikan.

"Pertemuan bilateral ini diharapkan menjadi forum para pihak untuk melanjutkan kerja sama ke tahap kegiatan yang konkrit," ucap Jonan.

Dibidang ketenagalistrikan, Jonan menuturkan, Pemerintah Indonesia sangat membuka investor Tiongkok untuk melakukan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di mulut tambang dan pembangunan proyek 35 ribu Megawatt (MW).

Sementara dibidang hulu migas, pemerintah menawarkan kepada perusahaan-perusahaan migas Tiongkok untuk mengelola wilayah kerja migas yang ada di Indonesia. "Juga bidang migas dan hulu migas, perusahaan hulu migas ada Petrochina, CNOOC, Sinopec dan Citic yang mengelola tambang migas dan sumur migas di Indonesia," imbuh dia.

Dalam industri pertambangan mineral dan batu bara, Jonan menegaskan, bahwa Tiongkok merupakan salah satu tujuan ekspor batu bara. Pemerintah akan mendorong peningkatan ekspor batubara tersebut.

"Tiongkok salah satu tujuan utama ekspor batu bara indonesia. Dan kami mendorong terus kerja sama dalam jangka panjang untuk ekspor batu bara Indonesia ke Tiongkok," jelas dia.

Lalu untuk segmen lingkungan hidup, pemerintah juga menyambut baik jika perusahaan Tiongkok mau bekerja sama mengembangkan potensi energi batu terbarukan di Indonesia.

"Dan juga oleh karena itu Pemerintah? Indonesia menyambut baik kalau ada studi dan kerja sama dibidang renewable energi. Dan juga investasi Tiongkok dibidang kelistrikan dari EBT," pungkas dia.

Sementara Nur Bekri berharap masa depan kerja sama Indonesia-Tiongkok dapat terus berlangsung. Menurutnya, Tiongkok merupakan negara dengan produksi dan konsumen energi terbesar di dunia. Sementara Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah.

Melalui penandatanganan nota kesepahaman ini diharapkan akan mempermudah kerja sama kedua belah pihak. "Kerja sama kedua negara saling mengisi dan memiliki prospek luar biasa," ucap Nur Bekri.

Sekadar informasi, beberapa kerja sama yang sudah dilakukan Indonesia dengan RRT adalah investasi perusahaan migas RRT di Indonesia yaitu SINOPEC (KKKS Non-Operasional Blok), Petrochina (KKKS Operasional Blok), CNOOC (KKKS Operasional Blok dan Non-Operasional Blok).

Lalu, investasi perusahaan RRT di bidang Ketenagalistrikan baik itu dalam proyek 35 ribu MW maupun proyek ketenagalistrikan di luar proyek 35 ribu MW. Proyek bidang ketenagalistrikan 35 ribu MW dalam dua skema yaitu EPC (Enginering, Procurement, and Construction) sebesar 3 persen dan IPP (Independent Power Producer) 36 persen dari total keseluruhan.

Untuk investasi ketenagalistrikan yang bukan termasuk dalam proyek 35 ribu MW, RRT juga ikut berpartisipasi, seperti PLTU Banten I, PLTU Banten II, PLTU Banten III, PLTU I Jawa Barat, PLTU II Jawa Barat, PLTU I Jawa Tengah, dan beberapa PLTU besar lainnya di wilayah Indonesia.

Kemudian untuk investasi di bidang hilir minerba, Alumunium Corporation of China Ltd. (Chinalco) bersama dengan PT Aneka Tambang Tbk dan PT Inalum membangun Smelter Grade Alumina di Kabupaten Mempawah (SGA Mempawah), Kalimantan Barat. Smelter yang direncanakan memiliki kapasitas satu juta ton per tahun ini diperkirakan menelan investasi sebesar USD1,5-1,8 miliar.

Antam dan Inalum akan membentuk perusahaan patungan atau JV dengan Chinalco. JV ini akan mengoperasikan smelter, dengan pihak Indonesia memegang saham mayoritas, minimal 51 persen.


(ABD)

Pemerintah Masih Godok Pembentukan <i>Holding</i> BUMN Jasa Keuangan

Pemerintah Masih Godok Pembentukan Holding BUMN Jasa Keuangan

4 hours Ago

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) masih menggodok pembentukan holding BUMN di sektor …

BERITA LAINNYA