Wamen ESDM Kaji Revisi Capex dan Opex untuk Turunkan Cost Recovery

Annisa ayu artanti    •    Senin, 17 Oct 2016 19:54 WIB
cost recovery
Wamen ESDM Kaji Revisi Capex dan Opex untuk Turunkan <i>Cost Recovery</i>
Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar. (FOTO MTVN/Githa Farahdina).

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah akan melakukan perhitungan ulang belanja modal (capital expenditure/capex) dan belanja opersional untuk menekan biaya eksplorasi migas yang dapat dikembali (cost recovery).

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arcandra Tahar usai rapat pimpinan dengan eselon I dan stakeholder sektor energi. Dalam rapat tersebut Arcandra mengatakan ada beberapa isu di sektor migas yang harus diselesaikan. Salah satunya adalah bagaimana menurunkan cost recovery.

"Cost recovery, gimana kita menurunkannya juga, ya mengungkapkan isu-isu, dirjen diberikan kesempatan ngelist isu-isu yang ada," kata Arcandra tadi sore di Kantor Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (17/9/2016).

Arcandra mengakui, rapat tersebut belum secara mendetil langkah apa yang akan dilakukan oleh pemerintah untuk menekan cost recovery. Namun, bila dilihat dari yang sudah ada, perkiraan untuk menekan cost recovery tersebut adalah dengan melihat apa yang bisa dikurangi dari biaya operasional dan belanja modal.

"Seperti kita melihat biaya biaya operasional, kan bisa capex. Belum sampe detil seperti itu," ucap Arcandra.

Oleh karena itu, Mantan Menteri ESDM ini mengatakan perlu mempelajari lagi agar cost recovery bisa diturunkan hingga USD1,2 miliar tahun depan.

"Saya ‎baru sehari disini, kita akan mempelajari, kita pelajari," pungkas Arcandra.

Sebelumnya, Pelaksana Tugas Menteri ESDM Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan cost recovery sektor hulu migas tahun depan akan ditekan mencapai USD10,4 miliar.

Penurunan cost recovery ini cukup besar dibandingkan dengan anggaran cost recovery tahun lalu sebesar USD13 miliar. Nantinya, sesuai dengan arahan Presiden cost recovery ini juga nantinya akan dioptimalkan untuk produk-produk dalam negeri.

"Cost recovery, kita target dan kita memaksa kalau bisa USD 10,4 miliar. Itu sedang kita cek," kata Luhut.

Untuk menurunkan besaran anggaran cost recovery tersebut, Luhut mengakui memang untuk terbilang cukup sulit. Ia menilai menentukan besar anggaran tersebut terlalu banyak negosiasi sehingga perlu ada langkah sedikit memaksanya.

"Itu harus bisa. Kadang-kadang kita harus butuh keras. Karena terlalu banyak negosiasi-negosiasi itu," ujar Luhut.

Sementara itu, dalam rapat asumsi Makro 2017, Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Amien Sunaryadi juga mengusulkan cost recovery tahun depan lebih rendah dari tahun ini yakni sebesar USD11,7 miliar.


 


(SAW)