Kinerja Batu Bara Diyakini Membaik hingga Akhir 2017

Dian Ihsan Siregar    •    Rabu, 09 Aug 2017 06:03 WIB
batu baraadaro energy
Kinerja Batu Bara Diyakini Membaik hingga Akhir 2017
Alat berat mengangkut batu bara (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Metrotvnews.com, Jakarta: PT Adaro Energy Tbk (ADRO) meyakini kinerja di batu bara masih akan terus menanjak hingga akhir 2017 ini. Keyakinan itu muncul lantaran ‎harga komoditas pada saat ini berada di posisi yang cukup baik.

Tidak ditampik tingkat kejatuhan harga komoditas sepanjang 2012 sampai pertengahan 2016 sangat berdampak besar bagi perusahaan batu bara. Namun, outlook industri batu bara akan terlihat cerah di tahun ini.

"Siklus penurunan waktu itu banyak berdampak negatif bagi perusahaan batu bara," ujar Direktur Keuangan ‎Adaro Energy David Tendian, ketika di‎temui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), SCBD Sudirman, Jakarta, Selasa 8 Agustus 2017.

‎Sepanjang periode lima tahun kurang, lanjut David, banyak perusahaan yang memproyeksikan bahwa siklus penurunan harga komoditas hanya bersifat sementara saja. "Mereka akhirnya kebanyakan ambil jalan pintas, dan punya dampak negatif terhadap batu bara," papar David.

‎Penurunan ‎harga komoditas juga berdampak buruk pada cadangan batu bara nasional. Bahkan, pemerintah lewat Kementerian ESDM telah membahas cadangan tersebut agar bisa bertahan hingga jangka panjang. "Saat ini kita cukup optimistis" pungkas dia.

Selama enam bulan pertama di 2017, total produksi batu bara perseroan mencapai 11,86 million tonnes (Mt), atau turun enam persen dari posisi 12,64 Mt di kuartal II-2016. Volume penjualan sebesar 12,03 Mt, atau menyusut 13 persen dari porsi 13,47 Mt.

‎Penurunan produksi batu bara perseroan dikarenakan akibat cuaca buruk yang memengaruhi aktivitas operasional. Pengupasan lapisan penutup naik dua persen menjadi 54,76 million bank cubic meter (Mbcm), sehingga nisbah kupas gabungan mencapai 4,62 x.

Penjualan batu bara perseroan masih banyak ke domestik yang mencapai 30 persen, Malaysia sebesar 15 persen, Korea sebesar 13 persen, Jepang sebesar 12 persen, Hongkong dan Taiwan masing-masing sebesar enam persen, India sebesar lima persen, dan lain-lainnya.


(ABD)