Efisiensi, Hulu Migas Tingkatkan Penggunaan Baja Pipa Lokal

Suci Sedya Utami    •    Jumat, 09 Nov 2018 12:03 WIB
migasskk migas
Efisiensi, Hulu Migas Tingkatkan Penggunaan Baja Pipa Lokal
Suasana MoU antara SKK Migas dengan The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA). (FOTO: Medcom.id/Suci Sedya)

Jakarta: Kegiatan hulu minyak dan gas (migas) mendukung peningkatan penggunaan produk dalam negeri demi terciptanya efisiensi terutama untuk menekan cost recovery.

Dukungan tersebut diberikan dalam bentuk penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) antara Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas dengan The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA). MoU tersebut berisi kerja sama peningkatan penggunaan produk pipa penyalur migas dan produk baja lainnya.

Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi mengatakan hulu migas mendapatkan tugas dari pemerintah untuk menekan cost recovery. SKK Migas mencatat capaian penggantian biaya operasional (cost recovery) selama 10 bulan terakhir sudah 97 persen atau USD9,7 miliar dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar USD10,1 miliar.

Di sisi lain pemerintah juga menargetkan untuk meningkatkan penggunaan tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Penggunaan TKDN pada hulu migas saat ini mencapai 62,58 persen.

Oleh karenanya, kata Amien, disepakati perjanjian dengan IISIA terkait formulasi harga untuk produk baja serta pipa di dalam negeri agar wajar dan juga kualitas produk sesuai standar American Petroleum Institute (API).

"Kalau harga tinggi, cost recovery naik. Kalau rendah pabrik baja pipa enggak bisa survive. Dan akhirnya disepakati formulasi harga sudah ada," kata Amien di kantor SKK Migas, Jakarta Selatan, Jumat, 9 November 2018.

Amien mengatakan formulasi harga sangat dipengaruhi oleh harga baja internasional yang nantinya akan selalu dimonitor oleh SKK Migas dan IISIA. Dia bilang kalau harga bahan baja internasional tinggi, namun di dalam negeri rendah tentu tidak adil. Begitu pun sebaliknya bila harga internasional rendah namun di dalam tinggi juga tidak adil.

Namun Amien menuturkan dalam implementasinya pada kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) Migas akan sangat bergantung dari kasus per kasus. Sehingga bukan merupakan suatu kewajiban yang harus dilakukan KKKS.

"Proyek akan dilihat case by case. Hulu migas sekarang lagi di bawah discovery-nya sedikit sekali, proyeknya sedikit. Harapannya begini, MoU bisa jalan kalau hulu lagi menanjak. Selain itu case by case karena banyak yang bilang 'wajib wajib wajib' habis itu hargnya ditinggikan dan profitnya dibagi-bagi," tutur Amien.

Selain rumusan mekanisme penetapan harga wajar, dalam MoU tersebut juga diberikannya technical assistance dari IISIA pada SKK MIgas. "Technical assistance penting mengingat SKK Migas sedang menghadapi proyek-proyek hulu migas ke depan agar penggunaan produk dalam negeri lebih optimal," ujar Kepala Divisi Pengelolaan Pengadaan Barang dan Jasa SKK Migas Erwin Suryadi.

Dalam kesempatan yang sama Ketua IISIA Silmy Karim merespons positif kerja sama ini. Sebab dari sisi industri bisa meningkatkan kembali pasar industri baja nasional yang mulai menurun.

"Diharapkan dengan terjalinnya sinkronisasi antara pemerintah, pengguna dan produsen dalam menyikapi kebutuhan pada proyek-proyek di hulu migas maka efektivitas dan efisiensi di dalam rantai suplai baja/pipa akan tercapai, negara dan pengusaha sama-sama untung," tambah Silmy.


(AHL)


Merpati dalam Cangkang

Merpati dalam Cangkang

21 hours Ago

NASIB maskapai penerbangan PT Merpati Nusantara Airlines (persero) bak burung dalam sangkar.

BERITA LAINNYA