Cost Recovery 2017 Bengkak

Annisa ayu artanti    •    Jumat, 05 Jan 2018 20:37 WIB
skk migascost recovery
<i>Cost Recovery</i> 2017 Bengkak
Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu Artanti)

Jakarta: Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat pengembalian biaya operasi (cost recovery) hulu migas melebihi Anggaran Pendapatan dan Belanja Perubahan (APBNP) 2017.

Dalam APBNP tercantum anggaran untuk cost recovery sebesar USD10,7 miliar. Namun, yang tercatat hingga 31 Desember 2017 melebihi target yakni USD11,3 miliar atau 106 persen dari target.

Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi mengatakan angka untuk cost recovery sampai 31 Desember 2017 belum diaudit. Hasil akhir nanti akan muncul sekitar Maret atau April 2018.

"Cost recovery melebihi batas yang ditetapkan" kata Amien di Kantor SKK Migas, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Jumat, 5 Januari 2018.

Komponen terbesar cost recovery berasal dari biaya produksi sebesar USD5,302 juta atau 47 persen dari total cost recovery yang tercatat. Lalu, komponen biaya terbesar kedua berasal dari biaya depresiasi sebesar USD3,273 juta atau 29 persen.

Sementara sisanya berasal dari biaya administarasi, pengembangan dan eksplorasi, unrecovered cost, dan investment credit yang jika ditotalkan sebesar USD2,744 juta.

Amien menjelaskan bengkaknya biaya cost recovery ini lantaran menjelang akhir 2017 harga minyak dunia mengalami kenaikan sehingga terjadi kenaikan juga pada komponen unrecovered cost.

Ia menyebut, beberapa kontrak yang dipegang Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) mengatakan bahwa jika posisi harga minyak dikisaran tertentu maka ada unrecovered cost akan masuk dalam cost recovery. Contohnya, pada Blok Kangean.

"Harga minyak naik, di beberapa wilayah kerja, misalnya Kangean, di dalam teks kontrak PSC-nya berbunyi kira-kira gini, 'kalau harga minyak sekian, maka unrecovered cost yang bisa masuk ke cost recovery sekian persen, kalau harga minyak sekian, lebih tinggi, maka unrecovered cost yang boleh masuk ke cost recovery lebih tinggi'," jelas Amien.

Meskipun demikian, lanjut Amien, SKK Migas juga mencatat penerimaan negara dari sektor hulu migas pada 2017 sebesar USD13,1 miliar. Angka ini melebihi target APBNP 2017 yang sebesar USD12,2 miliar.

"Capaiannya sekitar 108 persen dari target pemerintah," pungkas dia.

 


(AHL)