Isu Holding BUMN Migas Tekan Saham dan Market Cap PGN

Dian Ihsan Siregar    •    Kamis, 07 Dec 2017 19:34 WIB
perusahaan gas negara (pgn)
Isu <i>Holding</i> BUMN Migas Tekan Saham dan <i>Market Cap</i> PGN
Ilustrasi. ANT/Saiful Bahri.

Jakarta: Rencana Kementerian BUMN membentuk holding migas menjadi pil pahit bagi para investor PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS). Sejak surat menteri BUMN Rini Soemarno mengenai permintaan RUPSLB kepada PGN dalam rangka pembentukan holding migas bocor ke publik awal pekan ini, saham PGAS di bursa saham terus tertekan tajam.

Pada perdagangan Rabu, 6 Desember 2017, saham PGAS kembali tertekan dengan penurunan sebesar 55 poin atau 3,36 persen ke level Rp1.580 per saham. Salah satu level terendah yang disentuh perusahaan dengan identitas warna biru itu. Selama tiga hari lalu, harga saham PGAS turun sekitar 12 persen atau setara dengan Rp4,5 triliun nilai kapitalisasi pasar PGAS.

Pada saat kemarin, PGAS ada di urutan pertama dalam daftar saham laggard (pemberat) IHSG secara year to date (ytd) dengan kontribusi tekanan sebesar 24,8 poin. Di tempat kedua adalah saham PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) yang turun sebesar 33,2 persen pada periode sama diikuti saham PT Mitra Keluarga Tbk (MIKA) yang turun sebesar 32,3 persen.

Kemudian, posisi keempat daftar saham pemberat IHSG adalah PT Bank Jabar Tbk (BJBR) yang turun 31,6 persen secara year to date dan saham PT Waskita Karya Tbk (WSKT) yang turun 26,7 persen.

Namun, penutupan perdagangan Kamis, 7 Desember 2017, saham PGN naik 40 poin, atau 2,53 persen ke posisi Rp1.620 per saham dari posisi Rp1.590 per saham.

Nilai kapitalisasi pasar saham menjadi salah satu cerminan kekayaan BUMN bidang migas itu turun menjadi Rp38,302 triliun.

Sejak isu holding migas di gulirkan oleh menteri Rini Soemarno, tahun ini nilai kapitalisasi pasar saham PGAS sudah berkurang sebesar Rp15,89 triliun, bila dibandingkan Rp54,197 triliun pada 2 Januari 2017.

Turunnya saham dan kapitalisasi pasar PGN, menurut Pengamat Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi karena pembentukan holding migas. Dia menilai pembentukan holding migas merupakan jalan pintas dari menteri BUMN.

"Harusnya pembentukan holding dimulai dengan integrasi antara PGN dengan Pertagas," jelas Fahmy dalam keterangan resminya yang diperoleh media, Kamis, 7 Desember 2017.

Idealnya, Fahmy mengaku, holding migas merupakan perusahaan baru yang 100 persen sahamya dikuasai oleh pemerintah. Setelah itu, perusahaan ini akan membawahi anak perusahaan di sektor migas, termasuk Pertamina dan PGN.

"Bukan Pertamina mencaplok PGN, seperti konsep Rini. Cara ini justru menjadi blunder," pungkas dia.

Pembentukan holding migas yang merencanakan PT Pertamina sebagai holding dan PGAS sebagai anak usaha itu menimbulkan pro dan kontra.

Mayoritas pengamat dan kalangan profesional pada posisi tidak setuju terhadap akuisisi PGN oleh Pertamina. Terlebih jika melihat para calon anak usaha justru perusahaan publik dan dalam kondisi sehat.


(SAW)

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

1 day Ago

Federal Reserve AS atau bank sentral AS pada akhir pertemuan kebijakan dua harinya pada Rabu wa…

BERITA LAINNYA