Kiat Investasi di Hulu Migas Agar tak Tersandung Perkara Hukum

Suci Sedya Utami    •    Selasa, 25 Sep 2018 19:15 WIB
migasinvestasi
Kiat Investasi di Hulu Migas Agar tak Tersandung Perkara Hukum
Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto. (FOTO: Medcom.id/Eko Nordiansyah)

Jakarta: Kasus penahanan eks Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan oleh Kejaksaan Agung menarik perhatian para pemangku kepentingan di sektor energi khususnya di industri minyak dan gas (migas) termasuk Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto.

Karen diduga terlibat dalam proses investasi di Blok Basker Manta Gummy (BMG) yang dinilai Kejagung terdapat penyimpangan dan menimbulkan kerugian negara.

Meskipun Djoko mengatakan hal tersebut merupakan permasalahan hukum dan tidak ada domain dirinya dalam kasus itu namun dirinya pun mengimbau para pelaku bisnis di hulu migas agar lebih cermat dalam menindaklanjuti rencana investasi perusahaan mereka.

"Ke depan kalau mau investasi harus soon due dilligence-nya diperiksa," kata Djoko di Hotel Pullman, Jakarta Pusat, Selasa, 25 September 2018.

Djoko mengatakan sebelum berinvestasi di sektor tersebut maka pelaku bisnis mesti tahu bahwa blok, wilayah kerja, sumur atau lapangan yang akan digarap tersebut sudah berapa lama beroperasi.

Selain itu pelaku bisnis juga harus tahu mengenai maksimum cadangan di blok tersebut sehingga punya gambaran mengenai produksi ke depannya.

"Berapa lama produksi dan terus produksi terakhir berapa, lihat tekanannya berapa. Tekanannya masih primary production atau sudah secondary produksi atau tertiery," ujar dia.

Semua itu lanjut Djoko harus dilakukan pengecekan ke lapangan secara langsung. Begitu sudah yakin dan firm tentu dirapatkan oleh tim dan wajib meminta persetujuan dari manajemen. Apabila itu perusahaan negara maka tentu wajib melaporkan dan meminta peretujuan pemerintah sebagai pemegang saham.

Lebih jauh terkait kasus Karen, Djoko mengaki tidak tahu menahu sebab ketika hal itu terjadi dirinya belum menjabat sebagai Dirjen Migas dan tidak mengerti bagaimana proses yang sebenarnya.

Sebelumnya Kejagung memutuskan untuk menahan mantan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan. Karen ditahan setelah menjalani pemeriksaan dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi investasi perusahaan di Blok Baster Manta Gummy (BMG) Australia tahun 2009. Karen akan menjalani masa penahanan selama 20 hari ke depan di Rumah Tahanan (Rutan) Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung Adi Toegarisman menjelaskan penahanan perlu dilakukan agar perkara dapat selesai dengan cepat. Karen pun awalnya telah ditetapkan sebagai tersangka oleh tim penyidik Kejaksaan Agung sejak 22 Maret 2018. Namun sejak saat itu, Karen belum pernah diperiksa kembali sebagai tersangka oleh tim penyidik.

"Selama proses pemeriksaan penyidik berpendapat diperlukan tindakan paksa yaitu penahanan. Maksud tujuan karena sudah memenuhi syarat objektivitas dan subjektivitas dan agar perkara cepat selesai," kata Adi di Kejagung, Jakarta Selatan, Senin kemarin.


(AHL)


Komentar Menperin soal Sariwangi Pailit

Komentar Menperin soal Sariwangi Pailit

18 hours Ago

Bangkutnya PT Sariwangi Agricultural Estates Agency (Sariwangi AEA) dan anak usahanya yaitu PT …

BERITA LAINNYA