Proyek Panas Bumi Diklaim Tidak Ada yang Mangkrak

Annisa ayu artanti    •    Kamis, 22 Sep 2016 10:11 WIB
panas bumienergi terbarukan
Proyek Panas Bumi Diklaim Tidak Ada yang Mangkrak
Ilustrasi. (FOTO: Reuters)

Metrotvnews.com Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengklaim proyek pengembangan wilayah kerja panas bumi terus berjalan dan tidak ada yang mangkrak.

Direktur Jenderal Energi Baru terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana mengatakan, pengembangan wilayah kerja panas bumi membutuhkan waktu lama. Sehingga menyebabkan banyak orang berpendapat bahwa pengembangan tersebut jalan di tempat.

"Sekarang wilayah kerja panas bumi sudah tidak ada yang mangkrak," kata Rida, saat diskusi di Kantor Ditjen EBTKE, Jalan Cikini Raya, Jakarta, Rabu, 21 September.

Rida menjelaskan, pengembangan energi baru terbarukan yang paling optimal dan yakin akan selesai adalah pengembangan wilayah kerja panas bumi. Hanya saja, karena output dari pengembangan tersebut memakan waktu yang sangat panjang pengembangan itu dinilai lama.

"Kami paling yakin mengembangkan geotermal," ucap Rida.

Untuk mengembangkan wilayah kerja panas bumi (WKP) membutuhkan waktu sekitar enam sampai tujuh tahun. Banyak tahap yang harus dilalui dalam mengembangkannya, mulai dari penandatanganan perjanjian jual beli tenaga listrik atau power purchase agreement, tahap pengadaan, sampai dengan listrik disalurkan.

"Ini butuh bikin jalan, impor peralatan. Paling cepat enam tahun," ujar Rida.

Menegaskan tidak ada yang mangkrak, Rida mengumbar tahun ini ada 215 megawatt (mw) yang akan beroperasi. Ini adalah hasil pengembangan tujuh tahun yang lalu.

"Orang banyak bilang diam di tempat. Tahun ini saja 215 hasil pengembangan enam sampai tujuh tahun lalu," pungkas Rida.

Seperti dikutip dalam laman Ditjen EBTKE, Indonesia memiliki 40 persen dari potensi panas bumi dunia namun hingga saat ini pengembangannya mencapai 1.438,5 MW dari sembilan WKP yang telah beroperasi yaitu Sibayak dengan kapasitas 12 MW, kemudian Ulubelu 110 MW, Gunung Salak 377 MW, Patuha 282 MW, Kamojang - Darajat 505 MW, Dieng 60 MW, Lahendong - Tompaso 80 MW dan Ulumbu 10 MW.


(AHL)