Luhut Tegaskan Indonesia tak Impor LNG dari Singapura

Desi Angriani    •    Selasa, 12 Sep 2017 13:22 WIB
gas
Luhut Tegaskan Indonesia tak Impor LNG dari Singapura
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. (FOTO: MTVN/Husen Miftahudin)

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan membantah Indonesia akan melakukan impor gas alam cair (LNG) dari Singapura. Pemerintah hanya membuka kemungkinan adanya pertukaran (swap) antara LNG Singapura dengan LNG milik Indonesia.

"Rabu, saya akan beri keterangan resmi, tidak ada impor itu, hanya swap. Nanti biar jelas supaya jangan tanya-tanya, saya akan berikan keterangan," kata Luhut kepada wartawan, di Gedung BPPT, Jakarta Pusat, Selasa 12 September 2017.

Luhut menuturkan, meski perhitungan komponen biaya yang timbul akibat pembelian dari Negeri Singa itu lebih murah ketimbang mendatangkan LNG dari Indonesia Timur, pemerintah tak akan melakukan impor. Penegasan tersebut akan disampaikan Luhut dalam acara coffee morning pada esok, Rabu 13 September.

Selain wacana impor gas alam cair (LNG) dari Singapura, Luhut juga bakal buka-bukaan mengenai reklamasi Teluk Jakarta. "Nanti besok Rabu saya akan bikin coffee morning. Saya akan jelaskan semuanya biar tuntas jangan sepotong-potong, nanti tanya-tanya lagi, capek saya," tutur mantan Menkopolhukam ini.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, I Gusti Nyoman Wiratmaja, menyatakan tahun ini ada pasokan 18 dari 60 kargo LNG domestik belum memiliki pembeli. Pemerintah akan terus menawarkan kargo tersisa kepada pembeli hingga akhir tahun. Jika belum ada permintaan, pemerintah bakal menjualnya ke pasar spot yang harganya lebih murah.

Stok LNG yang menganggur berisiko bertambah jika kesepakatan gas antara kontraktor dengan pembeli gagal berlanjut ke tahap kontrak. Contoh kasusnya terjadi pada kesepakatan PT PLN (Persero) dengan BP Berau untuk memasok gas sebesar 20 kargo LNG per tahun hingga 25 tahun ke depan. Hingga kini, perjanjian jual beli gas tidak kunjung diteken kedua pihak.

 


(AHL)