Waspada Dampak Kenaikan Listrik terhadap Inflasi

Eko Nordiansyah    •    Rabu, 15 Nov 2017 19:40 WIB
listrikpembangkit listriktarif dasar listriktarif listrik
Waspada Dampak Kenaikan Listrik terhadap Inflasi
Illustrasi. ANT/M Agung Rajasa.

Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) mengantisipasi rencana kenaikan tarif listrik oleh pemerintah dan PT PLN (Persero) terhadap laju inflasi. Pasalnya kenaikan listrik selama ini selalu memberi porsi terbesar dari total inflasi.

"Kan masih wacana, belum diputuskan. Kami masih mempelajarinya sampai seberapa detail ke sana. Tapi sumbangan listrik ke inflasi ada ya," kata Kepala BPS Suhariyanto di Kantor Pusat BPS, Jalan dr Sutomo, Jakarta Pusat, Rabu, 15 November 2017.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti menambahkan, sama seperti halnya harga beras, kenaikan listrik juga menyumbang inflasi cukup tinggi. Rata-rata porsinya terhadap inflasi sebesar 2,5 persen sampai tiga persen.

"Jadi, kalau ada kenaikan tarif listrik dari penyederhanaan tersebut, maka bisa berpengaruh ke inflasi. Inflasi pengaruh kan dari total pengeluaran untuk listrik berapa, ini yang kami hitung," jelas dia.

Menurutnya, jika pemakaian listrik berlebihan, maka ada pengaruh terhadap Indeks Harga Konsumen (IHK). Untuk itu, BPS akan melakukan perhitungan tentang berapa banyak konsumen yang menggunakan listrik, yang semua data itu didapat dari PLN.

Seperti diketahui, pemerintah dan PLN tengah menggodok penyederhanaan kelas pelanggan listrik nonsubsidi. Penyederhanaan hanya berlaku bagi pelanggan 1.300 VA, 2.200 VA, dan 3.300 VA.

Semua golongan tersebut akan dinaikkan dan ditambah dayanya menjadi 4.400 VA. Sementara golongan 4.400 VA hingga 12.600 VA dinaikkan dan ditambahkan dayanya menjadi 13 ribu VA, dan golongan 13 ribu VA ke atas dayanya akan di-loss stroom.


(SAW)