Pemerintah Pelajari Ulang Bentuk Kerja Sama Migas dengan KKKS

Annisa ayu artanti    •    Jumat, 14 Oct 2016 07:22 WIB
migas
Pemerintah Pelajari Ulang Bentuk Kerja Sama Migas dengan KKKS
Plt Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luhut Binsar Pandjaitan. (FOTO: MTVN/Husen Miftahudin)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mengkaji dan mempelajari jenis kontrak kerja sama usaha migas dari berbagai dunia.

Pelaksana Tugas (Plt) Menteri ESDM Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan Indonesia sudah terlalu lama menggunakan jenis kontrak bagi hasil (Production Sharing Contract/PSC) dalam kontrak kerja sama migas antara pemerintah dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).

Karena itu, Luhut meminta dipaparkan tentang kontrak migas dari beberapa negara dan membandingkannya dengan keadaan global dan Indonesia saat ini.

"Itu (exercise kontrak PSC) kita lakukan dasarnya pada angka-angka mana yang terbaik buat pemerintah, rakyat, dan pengusaha. Tiga itu dan jangan melanggar Undang-Undang)," kata Luhut di Kantor Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (13/10/2016) malam.

Luhut mengaku, Indonesia akan bisa lebih terbuka melihat kondisi kontrak migas yang ada saat ini. Namun, Luhut tidak menjelaskan secara gamblang apakah pengkajian dan pemaparan menjadi awal permulaan potensi perubahan kontrak PSC atau tidak.

"Belum (mengubah konsep kontrak yang ada). Kita baru lihat model-model. Kita kan sudah pakai ini (PSC) bertahun-tahun," ujar Luhut.

Pria yang memimpin dua kementerian ini menegaskan, pemaparan dan perbandingan kontrak migas hanya untuk mencari jenis kontrak yang lebih efisien dari saat ini.

"Tidak, kita mau cari paling murah saja, pikiran saya mana yang paling efisien ya kita ubah," ujar Luhut.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian ESDM Teguh Pamudji menjelaskan tujuan pemaparan kontrak itu lantaran Luhut sangat responsif terhadap keluhan-keluhan KKKS. Luhut juga menginginkan dunia migas bergairah.

"Pak Menteri kita kan sangat responsif dengan keluhan-keluhan si kontraktor. Jadi bagaimana membuat kontraktor bergairah kembali. Jadi pertama mengenai regulasinya, kemudian bentuk kerja sama mana yang ditawarkan paling bagus untuk kontraktor," jelas Teguh.


(AHL)