Pemerintah Kaji Pelarangan Ekspor Mineral Nikel, Bauksit dan Tanah Jarang

Annisa ayu artanti    •    Rabu, 12 Oct 2016 22:56 WIB
ekspor minerba
Pemerintah Kaji Pelarangan Ekspor Mineral Nikel, Bauksit dan Tanah Jarang
Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luhut Binsar Pandjaitan. ANT/Rosa P.

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berpotensi untuk tidak memberikan kelonggaran ekspor mineral mentah untuk nikel, bauksit, dan tanah jarang.

Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan sebagian besar nikel dan bauksit sudah dapat diolah di dalam negeri.

"Jadi ini hampir ya, belum diputuskan, hampir pasti kita tidak akan memberikan relaksasi untuk nikel dan bauksit," kata Luhut di Kantor Kemenko Kemaritiman, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (12/10/2016).

Luhut menjelaskan pengolahan nikel sudah mencapai stainless steel. Menurutnya pengolahan pemurnian itu suatu kemajuan yang besar. Pengolahan pemurnian nikel saat ini sudah sampai turunannya yakni menjadi stainless steel.

Potensi turunan tersebut dikatakannya justru bisa diekspor. Seperti untuk alat-alat elektronik. Selain karena sudah bisa mengolahnya di dalam negeri, berdasarkan laporan dari tim pengkajian, Luhut membeberkan Indonesia sudah bisa mengkontrol potensi nikel yang ada.

"Sekarang ini Tiongkok hampir 60 persen atau 40 persen gitu, saya lupa angkanya, itu mengimpor dari kita. Nah sekarang mereka sudah buka disini sampai industri stainless steelnya. Nah, Indonesia dan Filipina itu mengontrol lebih 60 persen nikel dunia. Kalau tambah di dunia mungkin hampir 70 persen. Jadi ini sudah besar sendiri. Sekarang kita juga ekspor dong, ngapain kita ekspor lagi kalau sudah bisa dalam negeri kita," beber Luhut.

Saat ini, lanjut pria yang menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, dia bersama timnya sedang mengkaji lebih mendetil satu per satu komoditas mineral yang ada. Apakah komoditas tersebut menjadi list komoditas yang dilarang ekspornya atau tidak.

"Nah, sekarang saya ingin detail melihat satu item dengan item lain. Nah untuk menyangkut masalah cooper, itu masih dikaji lagi," ungkap Luhut.

Selain itu, Luhut juga menuturkan ada satu mineral mentah lagi yang tidak akan diekspor yakni tanah jarang. Komoditas itu sangat ditekankan Luhut karena merupakan mineral yang sangat langka. Indonesia pun akan menyiapkan teknologi untuk mengolahnya.

"Tapi mengenai tanah jarang (material alam) itu tidak akan kita ekspor. Walaupun kita belum punya teknologinya. Tapi itu barang sangat langka dan kita punya besar sekali. Dan kita mau produksi sendiri sambil menyiapkan teknologinya," pungkas Luhut.


(SAW)