Shell Melihat akan Kekurangan Pasokan LNG di 2020

Annisa ayu artanti    •    Rabu, 21 Mar 2018 10:52 WIB
lngshell
Shell Melihat akan Kekurangan Pasokan LNG di 2020
Ilustrasi. (FOTO: MI/Rommy)

Jakarta: Shell akan mengalami kekurangan gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) pada 2020. Hal itu karena pertumbuhan permintaan LNG setiap tahun semakin meningkat.

Integrated Gas and New Energies Director Shell Maarten Wetselaar menyampaikan berdasarkan outlook LNG tahunan Shell, pasar LNG terus menantang ekspektasi. Pada 2017 saja,  pertumbuhan permintaan LNG meningkat dari 29 juta ton menjadi 293 juta ton.

Berdasarkan hal itu dan proyeksi permintaan saat ini, Shell melihat adanya kecenderungan potensi kekurangan persediaan LNG pada pertengahan 2020, kecuali jika komitmen proyek baru produksi LNG segera dilakukan.

"Kami masih melihat permintaan yang signifikan dari importir tradisional di Asia dan Eropa, namun kami juga melihat LNG menyediakan persediaan energi yang fleksibel, andal, dan bersih untuk negara-negara lain di seluruh dunia," kata Maarten dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 21 Maret 2018.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, Jepang tetap menjadi pengimpor LNG terbesar di dunia pada 2017, sementara Tiongkok bergerak ke posisi kedua karena impor LNG Tiongkok melonjak melebihi Korea Selatan. Total permintaan LNG di Tiongkok mencapai 38 juta ton, karena Tiongkok melakukan konversi penggunaan batubara ke gas.

"Di Asia sendiri, permintaan naik sebesar 17 juta ton. Itu sama seperti hasil produksi LNG di Indonesia pada 2017, sebagai eksportir LNG terbesar kelima di dunia," imbuh dia.

Peran LNG dalam sistem energi global memang meningkat selama beberapa dekade terakhir. Sejak 2000, jumlah negara yang mengimpor LNG telah meningkat empat kali lipat dan jumlah negara yang memasoknya hampir naik dua kali lipat. Perdagangan LNG juga meningkat dari 100 juta ton pada 2000 menjadi hampir 300 juta ton pada 2017.

Pembeli LNG terus menandatangani kontrak dengan jangka waktu yang lebih pendek dan dengan jumlah yang lebih kecil. Pada 2017, jumlah spot kargo LNG yang terjual mencapai 1.100 untuk pertama kalinya, setara dengan tiga kargo yang dikirim setiap hari. Pertumbuhan ini sebagian besar berasal dari pasokan baru yaitu, Australia dan Amerika Serikat.

Meski demikian, ketidakcocokan persyaratan antara pembeli dan pemasok juga sering kali terjadi. Sebagian besar pemasok masih mencari penjualan LNG jangka panjang untuk mendapatkan sumber pemasukan yang lebih stabil. Tetapi, pembeli LNG semakin menginginkan kontrak yang lebih pendek, lebih kecil dan lebih fleksibel sehingga mereka dapat bersaing lebih baik di pasar energi dan gas hilir mereka sendiri.

"Ketidakcocokan tersebut perlu diatasi agar pengembang proyek LNG dapat membuat keputusan investasi akhir yang diperlukan untuk memastikan persediaan bahan bakar ramah lingkungan untuk ekonomi dunia cukup memadai," tutup dia.


(AHL)


PPN Avtur Indonesia Sudah Kompetitif

PPN Avtur Indonesia Sudah Kompetitif

2 days Ago

Perlakuan pengenaan pajak pendapatan nilai (PPN) untuk avtur bagi penerbangan domestik di Indon…

BERITA LAINNYA