Harga Minyak Naik, Chevron Kaji Ulang Proyek IDD

Desi Angriani    •    Selasa, 16 May 2017 16:47 WIB
chevron
 Harga Minyak Naik, Chevron Kaji Ulang Proyek IDD
Senior Vice President Policy, Government, and Public Affairs Chevron Yanto Sianipar dalam diskusi bertema isu dan tantangan migas di Kantor Chevron, Gedung Sentral Senayan I, Jakarta, Selasa 16 Mei 2017. MTVN/Desi Anggriani.

Metrotvnews.com, Jakarta: PT Chevron Indonesia masih mengkaji perubahan rencana dalam proyek minyak dan gas bumi (migas) di laut dalam atau Indonesia Deepwater Development (IDD), Selat Makassar. Perubahan tersebut terkait kondisi harga minyak dunia yang dianggap mampu membuat proyek IDD menjadi ekonomis.

"Sedang dalam proses (IDD di Selat Makassar). Karena ada opportunity baru untuk buat proyek itu ekonomis dengan kondisi harga minyak sekarang, dan perubahan informasi yang kita punya sehingga proyek tersebut dalam waktu dekat bisa selesai studinya. Studinya sedang dalam proses," ujar Senior Vice President Policy, Government, and Public Affairs Chevron Yanto Sianipar dalam diskusi bertema isu dan tantangan migas di Kantor Chevron, Gedung Sentral Senayan I, Jakarta, Selasa 16 Mei 2017.

Yanto mengungkapkan, pihaknya juga akan mempertimbangkan pemanfaatan teknologi agar proyek tersebut lebih efesien. Namun demikian, dia belum mengetahui waktu penyelesaian studi tersebut. Dari hasil kajian pihaknya baru dapat mengajukan kembali revisi rencana pengembangan (Plan of Development/PoD) ke pemerintah.

"IDD tergantung hasil studi. Mengenai perpanjangan kontrak, capital, produksi, desain engineering itu akan dipastikan setelah studinya selesai. Tidak bisa refer ke studi yang dulu karena kita lakukan revisi. Tidak bisa ikut studi yang 2008. Dari studi baru kita akan melakukan revisi PoD," pungkasnya.

Sekadar diketahui, proyek IDD  sudah mengantongi persetujuan POD pada 2008. Tetapi, setelah tahap Front End Engineering Design (FEED) pada 2013, biaya yang dibutuhkan proyek meningkat dari sekitar USD6,9 miliar menjadi USD12 miliar.

Karena itu, perusahaan asal Amerika Serikat ini perlu merevisi POD. Namun pemerintah selalu memberikan penolakan karena proposal tidak lengkap secara adminstrasi dan Chevron meminta insentif yang tidak ada dalam kontrak, yakni credit investment.

Chevron meminta investment credit atau hak ganti rugi kepada pemerintah dengan persentase yang sangat tinggi sebesar 240 persen. Padahal, maksimal investment credit yang diminta KKKS itu hanya 100 persen.

Berdasarkan catatan Kementerian ESDM, produksi lapangan Gendalo dan Gehem diperkirakan mencapai 1,1 miliar kaki kubik gas alam dan 47 ribu barel kondensat per hari. Sedangkan proyek IDD Tahap I di lapangan Bangka sudah berproduksi sejak akhir Agustus 2016 lalu.


(SAW)

Bank Mandiri Tunggu Pelunasan Utang Modern Internasional
Sevel Tutup

Bank Mandiri Tunggu Pelunasan Utang Modern Internasional

4 days Ago

Bangkrutnya usaha 7-Eleven (sevel) ditangan PT Modern Internasional Tbk (MDRN) meninggalkan ban…

BERITA LAINNYA