Mental Pengusaha Batu Bara Perlu Berubah

Ilham wibowo    •    Selasa, 04 Dec 2018 15:24 WIB
batu bara
Mental Pengusaha Batu Bara Perlu Berubah
Ilustrasi. (FOTO: MI/Panca Syurkani)

Jakarta: Pengamat Ekonomi Energi UGM Fahmy Radhi menilai sudah saatnya level industri batu bara di Tanah Air segera ditingkatkan. Langkah pemerintah berfokus pada hilirisasi komoditas potensial pun perlu didukung pelaku usaha.

"Idealnya komoditas di Indonesia itu dihilirkan, misalnya sawit itu juga mestinya dihilirkan agar ada produk turunan, termasuk juga batu bara mestinya bisa menghasilkan produk-produk lain,"  ujar Fahmy dihubungi Medcom.id, Selasa, 4 Desember 2018.

Hilirisasi industri produk komoditas terutama sektor pertambangan pun saat ini dinilai belum digarap dengan baik. Arah pembangunan industri hanya terfokus pada peningkatan jumlah ekspor, bukan pada nilai tambah.

"Suatu industri adalah bisa menghasilkan produk turunan bernilai tambah, tapi yang berkembang di Indonesia itu cari gampangnya, karena menjual barang mentah juga sudah untung sehingga menyebabkan hilirisasi itu tidak berjalan dengan baik," paparnya.

Fahmy menyayangkan pengusaha pertambangan batubara saat ini terlalu terlena dengan keuntungan perdagangan bahan mentah. Padahal, potensi meningkatkan nilai tambah produk juga bakal berbuah manis saat digarap dengan serius.

"Masalahnya di situ, jadi mental pengusaha itu masih mental pedagangan, kalau sudah menguntungkan kenapa mesti diolah, kan seperti itu. Nah pengusaha tadi harus berubah tidak hanya sebagai pedagang tapi sebagai industriawan," ungkapnya.

Pemerintah kini tengah fokus pada hilirisasi industri untuk ikut menyelesaikan defisit transaksi berjalan. Presiden Joko Widodo bahkan mengultimatum pelaku usaha untuk meningkatkan level nilai tambah produk.

"Setop ekspor bahan mentah, kurangi ekspor bahan mentah. Bahwa dagang lebih enak dari industri tetapi ini untuk keperluan negara kita," kata Jokowi dalam pembukaan CEO Networking 2018 di The Ritz-Carlton Jakarta Pacific Place, Jakarta Selatan, Senin, 3 Desember 2018.

Kepala Negara tak ingin sumber daya alam Indonesia yang melimpah dijual dengan harga murah. Pasalnya, jika diolah, nilai dari produk itu bakal lebih tinggi.

Jokowi mencontohkan batubara mentah yang diekspor 480 juta ton per tahun. Batu bara bisa diolah menjadi elpiji hingga avtur. Jika dihilirisasi, batu bara bisa mengurangi impor elpiji yang mencapai empat ton per tahun.

Nikel juga bernasib serupa. Indonesia, kata Jokowi, mengekspor jutaan ton nikel per tahun seharga USD30 per ton. Padahal, bila diolah menjadi feronikel, harganya bisa naik empat kali lipat.

Selain itu, Jokowi juga menyinggung posisi Indonesia sebagai produsen minyak kelapa sawit terbesar. Negara bisa mengimpor 42 juta ton minyak kepala sawit per tahun.

Menurut dia, minyak kelapa sawit bisa diolah menjadi solar B20. Hilirisasi minyak kelapa sawit pun dapat menekan impor solar yang mencapai jutaan ton per tahun.

Pelaku usaha pun dipaksa untuk menjalankan hilirasasi industri. Bila tak memiliki teknologinya, mereka dapat membelinya atau mencari patner untuk bekerja sama.

Jokowi pun mengapresiasi pemimpin di sektor fiskal, moneter, dan pelaku usaha sudah berkomunikasi dalam masalah ini. Dia menekankan mereka perlu berpikiran terbuka dalam menggarap hilirisasi industri.

"Kalau kita bertele, ruwet, ditinggal kita," jelas dia.

 


(AHL)


Struktur BP Batam Dipastikan Tidak Berubah

Struktur BP Batam Dipastikan Tidak Berubah

36 minutes Ago

Struktur organisasi dari BP Batam dipastikan tidak berubah meski figur pemimpin dalam organisas…

BERITA LAINNYA