Forum Powering Progress Together Bahas Masa Depan Energi

Arga sumantri    •    Jumat, 17 Mar 2017 08:03 WIB
energi
Forum Powering Progress Together Bahas Masa Depan Energi
Ilustrasi/foto: dok. Shell

Metrotvnews.com, Jakarta: Shell mengumpulkan pakar berbagai bidang terkait energi dalam forum Powering Progress Together yang pertama di Singapura. Forum ini mengangkat tema “Cleaner Energy Moves Asia”.

Forum ke-4 yang diadakan di Asia ini dihadiri lebih dari 100 pemangku kepentingan. Mereka datang dari kalangan pemerintah, dunia usaha, akademisi, LSM, juga mitra usaha dan pimpinan.

Dalam forum, Shell membahas dan mendorong terjadinya kolaborasi lintas batas sebagai jawaban berbagai tantangan energi masa depan. Menurut skenario Shell, kebutuhan energi Asia dapat meningkat sebesar 50 persen menjelang 2040.

Forum fokus pada sejumlah aspirasi dan dilema di Asia guna menjawab tantangan energi masa depan di Asia. Forum juga mengumpulkan delegasi beragam sektor untuk menghadirkan sejumlah solusi teknis dan inovatif tentang energi yang lebih bersih, lebih terjangkau, dan mudah diperoleh.

Executive Committee Member for Royal Dutch Shell, John Abbot mengatakan, perubahan dalam penggunaan energi akan terjadi hampir di setiap bagian masyarakat. Pemerintah, akademisi, konsumen, dan perusahaan seperti Shell perlu bekerja bersama memenuhi tantangan sangat besar itu.

"Dengan kesediannya untuk bekerja sama dan rekam jejaknya dalam bidang pemikiran ke depan, Singapura menjadi contoh yang bagus di bidang ini,” kata John Abbot, Kamis 16 Maret 2017.

Forum diawali dengan diskusi bertajuk “Dilema Energi yang Lebih Bersih di Asia”. Dalam diskusi yang dipandu Global Senior Managing Director for Accenture Labs, Marc Carrel-Billiard ini, pakar membicarakan bagaimana kiat Asia menyeimbangkan kebutuhan energinya makin meningkat dengan emisi lebih rendah.

Pakar juga membahas bagaimana mempertahankan sistem energi yang dapat diandalkan. Berbagai model bisnis baru, teknologi pengungkit yang merupakan terobosan, serta upaya pengembangan sejumlah kemitraan dan kolaborasi turut dibahas.

Panelis yang hadir dalam diskusi itu antara lain, Mark Gainsborough (Executive Vice President, New Energies, Royal Dutch Shell), Ng Wai Choong (CEO, Energy Market Authority), Koh Kong Meng (General Manager & Managing Director, Southeast Asia & Korea, HP Inc). Ada juga Visal Leng (President, Asia Pacific, GE Oil & Gas), dan Dr. Alvin Yeo (Director, Industry Development Department,EMA).

Indonesia, menurut John, berkepentingan mencermati dan menindaklanjuti sejumlah gagasan terbaik tentang energi yang lebih bersih dari forum ini. Pasalnya, di antara negara-negara berkembang, Indonesia punya komitmen tinggi mengurangi emisi karbon.

Indonesia menargetkan pengurangan emisi karbon sebesar 29 persen pada 2030. Hal itu seperti dinyatakan dalam kontribusi yang ditetapkan secara nasional (NDC) yang disepakati dalam Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim yang diselenggarakan di Paris pada Desember 2015.

Sekelompok seniman teater lokal mengisi forum dengan memainkan pertunjukan kilas balik untuk menantang para delegasi agar memikirkan secara kritis dan kreatif sejumlah solusi demi menciptakan masa depan energi yang lebih bersih di Asia. Pertunjukan itu terinspirasi dari kompetisi ‘Imagine the Future Scenario Competition’ yang diadakan untuk pertama kalinya.

Dalam kompetisi tersebut tim mahasiswa pemenang dari Nanyang Technological University, Singapura, menampilkan dua skenario yang bertentangan. Berawal dari kolaborasi dan poteksionisme tentang kiat manusia di Asia untuk hidup, bekerja dan bermain di 2050.

Skenario Menghadapi Kebutuhan Energi Masa Depan

Skenario pertama, “Convergence”, memiliki latar belakang suatu dunia yang lebih kolaboratif, baik di tingkat komunitas maupun internasional. Skenario ini fokus pada kehidupan di sejumlah kota urban. Lewat fasilitas energi cerdas milik bersama memungkinkan orang untuk berbagai energi terbarukan di berbagai kota di dalam kawasan yang sama.

Berbagai komunitas memanfaatkan transportasi umum yang efisien, yang digerakkan oleh kendaraan otomatis dan utilitas cerdas. Sementara, di waktu bersamaan, berbagai kota itu bekerja bersama untuk mengubah limbah menjadi energi.

Skenario berikutnya, “Divergence”. Skenario ini menggunakan pelbagai peralatan teknologi maju, seperti perangkat Augmented Reality (AR), dan Virtual Reality. Itu akan membuat kehidupan kita menjadi terdesentralisasi. Sehingga, pelbagai kegiatan seperti kerja dan bermain bisa dilakukan di rumah.

Dalam hal ini, rumah mendapat insentif ekonomis untuk menghasilkan energi terbarukan sendiri dan menggunakan teknologi baru untuk mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang.

Menarik Perhatian

Container of Possibilities: The Twenty Fifty menjadi titik perhatian dalam forum tersebut. Itu merupakan pameran kontainer interaktif yang menampilkan rumah konsep Asia modern untuk masa depan.

Pertama kali muncul di ajang Make the Future Singapore, pameran ini menampilkan inovasi teknologi dari Shell dan para mitra bisnisnya untuk memperlihatkan bagaimana energi diproduksi dan dikonsumsi di 2050. Pameran terinspirasi dari gagasan para mahasiswa Imagine the Future Scenario Competition.

Kontainer setinggi 20 kaki itu memamerkan sebuah rumah yang efisien energi, dan diberdayakan serta terhubung oleh teknologi. Beberapa inovasi menarik di Container of Possibilities: The Twenty Fifty, antara lain:

1. New Energy Economy, yang menampilkan pasar masa depan berada di sebuah platform dua arah antara pemilik rumah (konsumen) dan penyedia utilitas. Sejumlah daun jendela pengumpul energi matahari yang diaktifkan membangkitkan energi untuk pemilik rumah, dan kelebihan energinya bisa disimpan untuk digunakan di kemudian hari atau dijual ke pasar.

2. The Telepresence Robot, yakni suatu layanan platform komunikasi ‘telepresence’ yang memungkinkan pemilik rumah memantau kondisi di dalam rumah dan menciptakan kehadiran dirinya secara visual sehinga merasa dekat dengan orang-orang tercinta.

3. Real-time Energy Alert yang digerakkan oleh aplikasi dan marker, yang mengirim notifikasi ke ponsel pemilik rumah tentang efisiensi operasional dari perangkat-perangkatnya dan memastikan penurunan biaya bila terjadi kerusakan.

Container of Possibilities: The Twenty Fifty juga mendorong pengunjung untuk memberikan suara dan menulis pandangan mereka tentang seperti apa gambaran rumah di 30 tahun mendatang. Pameran ini akan memulai tur ke sejumlah kota di Asia, beberapa bulan berikutnya di tahun ini, termasuk Jakarta.

Shell Singapore Country Chair and VP City Solutions, Goh Swee Chen mengatakan, Shell sudah lama mengetahui adanya kebutuhan untuk mengurangi emisi karbon dan memecahkan masalah polusi udara di banyak wilayah di Asia. Namun, Shell juga tahu, semakin banyak energi dibutuhkan untuk menyediakan kualitas hidup yang layak, tidak hanya di Asia tapi juga di seluruh dunia.

"Itulah sebabnya kami telah menciptakan sejumlah wadah seperti forum Powering Progress Together dan festival Make the Future. Kami berada di sini untuk membuktikan asumsi yang ada selama ini dan menemukan berbagai cara inovatif untuk memecahkan masalah,” kata Goh Swee Chen dalam pidato penutupnya.

Powering Progress Together Singapore merupakan acara pembuka Make the Future Singapore. Gelaran itu adalah suatu festival empat hari yang menampilkan sejumlah gagasan dan solusi cerdas tentang energi untuk menjawab tantangan energi global. Make the Future dibuka untuk umum pada 16 -19 Maret 2017 di Changi Exhibition Centre.


(OJE)

Bank Mandiri Tunggu Pelunasan Utang Modern Internasional
Sevel Tutup

Bank Mandiri Tunggu Pelunasan Utang Modern Internasional

4 days Ago

Bangkrutnya usaha 7-Eleven (sevel) ditangan PT Modern Internasional Tbk (MDRN) meninggalkan ban…

BERITA LAINNYA