Investasi Pertamina di Blok Mahakam Lebih Rendah dari Biaya Operasional

Suci Sedya Utami    •    Kamis, 09 Nov 2017 18:31 WIB
blok mahakam
Investasi Pertamina di Blok Mahakam Lebih Rendah dari Biaya Operasional
Ilustrasi Blok Mahakam. (FOTO: ANTARA/Yudhi Mahatma)

Jakarta: PT Pertamina (Persero) menngalokasikan investasi atau belanja modal (capex) untuk Blok Mahakam pada 2018 sebesar USD700 juta. Namun di sisi lain biaya operasional untuk pengelolaan yakni sekitar USD1,1 miliar.

Artinya, biaya produksi melebihi  anggaran yang diinvestasikan. Investasi ini juga dinilai menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya. Apa yang membuat Pertamina optimistis dengan anggaran tersebut tetap bisa menjalankan produksinya?

Direktur Utama Pertamina Hulu Indonesia Bambang Maumayoso menjelaskan mengapa Pertamina berani untuk investasi diangka yang lebih kecil dibanding pengelola sebelumnya, Total E&P Indonesia, namun dengan angka produksi yang tetap.

Bambang mengatakan, investasi pada tahun-tahun sebelumnya seperti pada 2014 besar karena harga minyak saat itu masih berada pada level USD120-an per barel. Maka semua pelaku industri migas optimistis untuk menanam investasi dalam jumlah besar, termasuk Pertamina juga pada saat itu.

"Namun, masuk Oktober 2014 hampir semua KKKS melakukan reducing cost (pengurangan biaya), kalau yang tadinya bisa investasi USD22 miliar, dengan harga minyak sekarang, itu enggak mungkin," kata Bambang dalam bincang media di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis 9 November 2017.

Dia mengungkapkan, bisa saja, Pertamina investasi lebih tinggi dari ini. Namun tentu, sebagai perusahaan dengan saham 100 persen yang dimiliki pemerintah, maka segala kegiatan termasuk keuangan sangat diawasi oleh pemilik saham.

"Kalau saya spending USD2 miliar hingga USD3 iliar dengan harga minyak saat ini, saya dimarahi pemerintah karena dianggap boros," jelas dia.

Seperti diketahui, Blok Mahakam merupakan produsen gas terbesar Indonesia yang kontribusi total produksi gas nasional sekitar 20 persen. Total E&P Indonesie (TEPI) dan Inpex Corporation menjadi operator pengelola Blok Mahakam sejak 1966 silam saat Kontrak Kerja Sama (KKS) WK Mahakam ditandatangani pada 6 Oktober 1966 dan berakhir 30 Maret 1997.

Kontrak tersebut telah diperpanjang pada 11 Januari 1997 dan akan berakhir pada 31 Desember 2017. Sehingga, mulai 1 Jauari 2018 blok yang meliputi lapangan gas Peciko, Tunu, Tambora, Sisi Nubi dan South Mahakam. Selain itu termasuk juga lapangan minyak Bekapai dan Handil ini akan dikelola oleh PT Pertamina.


(AHL)