Harga Komoditas Naik, Prospek Cerah Produsen Nikel?

M Studio    •    Jumat, 08 Sep 2017 11:18 WIB
antam
Harga Komoditas Naik, Prospek Cerah Produsen Nikel?
Antara Foto/Sahrul

Metrotvnews.com, Jakarta: Industri manufaktur Tiongkok telah meningkat dan tercatat yang paling tinggi selama enam bulan terakhir pada Agustus 2017. Selain itu, permintaan stainless steel diprediksi tetap tinggi oleh negara pemilik 55% market share global, terbesar di dunia itu. Hal itu menyebabkan tingginya permintaan komoditas nikel dan naiknya harga bahan pembuat baja nirkarat itu.
 
Mengutip Reuters pada Jumat 1 September 2017, harga nikel kontrak tiga bulanan London Metal Exchange (LME) tercatat US$11.895 per ton. Angka itu tertinggi sejak November 2016 menurut data Thomson Reuters. Padahal analis menduga akan ada defisit nikel pada 2017-2018 dikarenakan ketatnya peraturan ekspor, tutupnya beberapa perusahaan smelter, dan berkurangnya bijih nikel Filipina yang mulai digantikan oleh Indonesia.
 
Naiknya harga komoditas ini bakal membawa angin segar bagi produsen nikel di Indonesia yang akhir-akhir ini tertekan oleh volatilitas harga. Direktur Keuangan Antam Dimas Wikan Pramudhito berharap naiknya harga komoditas bisa berdampak positif kepada pendapatan. “Volatilitas harga komoditas memang menjadi salah satu faktor eksternal yang memengaruhi pendapatan perusahaan” kata Dimas.
 
Menurut perkiraan analis, ekspor nikel Indonesia pada 2017 hanya akan terealisasi 5 juta ton nikel dan 9 juta ton pada 2018. Jika berkaca pada angka itu akan ada defisit feronikel sebesar 84 ribu TNi pada 2017 dan 107 ribu TNi pada 2018 atau sebesar rata-rata 6% pada 2016-2018. Stok nikel di Tiongkok kabarnya juga berkurang sekitar 53% di akhir Juni 2017 karena tidak ada supply tambahan dari Filipina.
 
Beberapa sentimen pendukung juga disinyalir menjadi penyebab kenaikan komoditas itu. Salah satu perusahaan besar asal Korea Selatan dikabarkan telah memulai produksi komersial produk baterai lithium-ion menggunakan nikel. Perusahaan pembuat baterai untuk Mercedes-Benz, Kia Motors dan BAIC Motor Corp China itu memproduksi baterai ukuran sedang dan besar dengan 80% komponen nikel.
 
Menurut Dimas, Antam tetap komitmen buat mencapai target produksi feronikel di semester II 2017. Produksi feronikel ANTM di semester I 2017 tercatat 9.327 TNi. Angka ini lebih tinggi dari pada periode yang sama pada 2016 yang tercatat 8.304 TNi.
 
Dimas juga mengatakan akan memanfaatkan sentimen positif dengan menjaga level biaya tunai tetap rendah agar meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Sampai semester I 2017, ANTM mencatatkan biaya tunai produksi feronikel sebesar US$3,71/lb sedangkan harga jual rata-rata sebesar US$4,54/lb.


(TRK)