Indonesia Harus Bercermin dari PLTN Bangladesh

Ade Hapsari Lestarini    •    Kamis, 07 Dec 2017 10:31 WIB
pembangkit listriknuklir
Indonesia Harus Bercermin dari PLTN Bangladesh
Ilustrasi PLTN di Belarusia. (FOTO: AFP)

Jakarta: Bangladesh dinilai sedang dalam perjalanan untuk mendapatkan pasokan listrik yang paling ramah dan ekonomi.

Hal ini menyusul dimulainya pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) berskala besar yang modern dan aman untuk pertama kalinya di negara tersebut.

Kepala Komisi Energi Dewan Riset Nasional Indonesia yang juga pakar nuklir Indonesia Dr Arnold Soetrisnanto mengatakan Indonesia harus bercermin dari pembangunan PLTN di Bangladesh itu.

"Apabila Indonesia ingin mempertahankan statusnya sebagai negara maju dan berdaulat, maka Indonesia harus bercermin pada Bangladesh dan memulai program tenaga nuklir," kata dia seperti dikutip dalam keterangan tertulis yang dirilis Rosatom, Kamis, 7 Desember 2017.

Arnold menambahkan, sumber-sumber energi fosil yang selama ini menjadi tulang punggung sumber energi Indonesia pada akhirnya akan habis yakni dengan berkurangnya penemuan cadangan baru, minyak bumi nasional yang akan habis dalam 11 tahun, gas alam habis dalam 35 tahun, dan batu bara habis dalam 70 tahun.

Baca: Bangladesh Mulai Pembangunan PLTN Pertama

"Namun di saat yang sama, Indonesia memproyeksikan pertumbuhan industri di atas 30 persen dan ekonomi di atas tujuh persen. Kondisi ini tentu saja mengancam ketahanan energi nasional dan mengakibatkan terganggunya stabilitas ekonomi dan sosial," tegas Arnold.

Peneliti Energi dari Universitas Nasional Singapura Dr Victor Nian berpendapat proyek pembangunan PLTN Rooppur di Bangladesh diharapkan bisa menjadi referensi penting bagi negara-negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara yang memiliki kepentingan untuk mengembangkan energi nuklir.

Selain itu, proyek ini juga dapat menjelaskan perkembangan kebijakan di bidang pengelolaan bahan bakar bekas dan limbah radioaktif di negara-negara berkembang di Asia Selatan dan Tenggara melalui kemitraan strategis dengan Rusia.

 


(AHL)