Geopolitik Timur Tengah Terganggu, Harga Minyak Bisa Melonjak

Desi Angriani    •    Kamis, 07 Dec 2017 14:49 WIB
minyak
Geopolitik Timur Tengah Terganggu, Harga Minyak Bisa Melonjak
Illustrasi. AXEL SCHMIDT/Reuters.

Jakarta: Kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel dinilai memperparah kondisi geopolitik di Timur Tengah.

Peneliti Institute Development of Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan gejolak ini bisa membuat harga minyak mentah naik hingga USD80 per barel dalam tempo singkat.

"Jika konflik melebar dan melibatkan dua kepentingan utama yakni Saudi dan Iran dikhawatirkan pasokan minyak mentah akan terganggu," kata Bhima kepada Medcom.id melalui pesan singkat di Jakarta, Kamis, 7 Desember 2017.

Selain kenaikan harga minyak dunia, fluktuasi juga akan terjadi hampir di seluruh sektor finansial baik pasar saham dunia dan nilai tukar. Bhima menuturkan bursa saham Nikkei sempat ditutup melemah dua persen, Rupiah pun ikut melemah 0,2 persen pada penutupan 6 Desember lalu.

"Dalam jangka pendek instabilitas geopolitik akan berpengaruh pada minat investor asing ke negara Asia," tutur dia.

Hal serupa disampaikan oleh Ekonom Sampoerna University Wahyoe Soedarmono. Konflik yang diciptakan Trump tersebut akan mempengaruhi ekonomi Indonesia namun tidak akan berdampak secara langsung.

Pemerintah pun diminta untuk melakukan antisipasi sebelum konflik tersebut mempengaruhi perekonomian global.

"Kalau yang berdampak langsung pada kebijakan fiskal, tax reform dan suku bunga tapi ini tetap memengaruhi," imbuh dia.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel pada Rabu 6 Desember 2017. Trump pun mengumumkan rencananya untuk memindahkan Kedutaan Besar AS di sana.

"Hari ini akhirnya kami menyadari hal yang nyata. Bahwa Jerusalem adalah Ibu Kota Israel. Ini tidak lebih dari sekedar pengakuan akan kenyataan dan tepat dilakukan," kata Trump di Gedung Putih seperti dilansir CNN, Kamis, 7 Desember 2017.

Keputusan Trump berbalik dengan kebijakan luar negeri AS yang menolak pengakuan Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel sebelum konflik Israel-Palestina dapat diselesaikan.


(SAW)