Pemerintah Klaim Lelang Wilayah Kerja Panas Bumi Banyak Peminat

Annisa ayu artanti    •    Kamis, 13 Oct 2016 15:07 WIB
panas bumi
Pemerintah Klaim Lelang Wilayah Kerja Panas Bumi Banyak Peminat
Panas Bumi. ANTARA FOTO/Adwit B Pramono.

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengklaim empat wilayah kerja panas bumi (WKP) yang dilelangkan pada akhir September lalu sudah banyak diminati investor.

Direktur Panas Bumi, Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Yunus Saefulhak mengatakan empat WKP tersebut yakni WKP Gunung Rilis, WKP Gunung Galunggung, WKP Gunung Hamiding, dan WKP Graho Nyabu sudah diminati oleh investor-investor baik dalam maupun luar negeri.

"Sudah, yang ada minat seperti Hamiding juga sudah minat. Kemudian di Graho Nyabu dari Filipina juga sudah minat. Kemudian Gunung Wilis dari lokal. Hampir semua sudah ada peminatnya walaupun satu-satu. Nanti pertamina juga (masuk)," kata Yunus saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Kamis (13/10/2016).

Yunus optimis bisa mengakhiri lelang dan mengumumkan pemenangnya pada Januari 2017. Yunus menjelaskan, lelang wilayah kerja panas bumi berbeda dengan lelang barang karena investasi yang harus dikeluarkan sangat besar.

WKP Gunung Galunggung dan WKP Gunung Wilis dibutuhkan investasi sebesar USD520 juta. Sementara WKP Hamiding total investasi sebesar Rp1 miliar dan WKP Graho Nyabu sebesar Rp2 triliun.

"Kalau pemenang yang belum. Kira-kita Januari. Kalau panas bumi itu bukan lelang barang. Tapi lelang investasi. Jadi mengumumkan saja butuh satu bulan karena tidak mudah. Mempertimbangkannya kan triliunan. Satu megawatt itu USD4 juta," jelas Yunus.

Selain keempat WKP tersebut, Yunus menambahkan, ada WKP yang sudah dilakukan lelang pada April 2016 lalu tapi tidak ada investor yang berminat. WKP tersebut itu adalah WKP Marana di Sulawesi Tengah. WKP tersebut tidak dilirik investor lantaran temperaturnya cukup rendah. Oleh karena itu, pemerintah menunda lelang tersebut dan menghitung ulang harga listrik yang baru.

"Yang tidak dimintai seperti Marana. Karena temperaturnya yang cukup rendah. Maka kita harus set lagi dengan harga listrik yang cukup baik. Kita akan menciptakan harga baru sehingga tentunya akan menjadi lebih menarik," pungkas dia.


(SAW)