SKK Migas Catat ExxonMobil Produksi Terbesar di Jabanusa

Annisa ayu artanti    •    Senin, 07 Aug 2017 10:45 WIB
migasskk migas
SKK Migas Catat ExxonMobil Produksi Terbesar di Jabanusa
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Dhoni Setiawan)

Metrotvnews.com, Jakarta: Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mencatat ExxonMobil Cepu Ltd (EMCL) menjadi operator dengan produksi terbesar di Jawa, Bali, Nusa Tenggara (Jabanusa).

Kepala Perwakilan SKK Migas Wilayah Jabanusa Ali Masyhar mengatakan, produksi minyak bumi di Jabanusa sudah mencapai 30 persen dari total produksi migas nasional yang sekitar 800 ribu barel minyak per hari.

"Salah satu kontraktor kontrak kerja sama dengan produksi terbesar di wilayah ini adalah ExxonMobil Cepu Ltd (EMCL)," kata Ali Masyhar, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Senin 7 Agustus 2017.

Per Juli 2017, Ali menjelaskan, rata-rata produksi EMCL lebih dari 199 ribu barel per hari. Di wilayah ini juga baru beroperasi lapangan BD dengan operator HCML yang berlokasi di perairan Sampang dengan produksi sebesar 6.600 barel per hari dan 110 juta standar kaki kubik gas bumi per hari.

Meski sudah mencapai 30 persen dari total produksi, Ali menjelaskan, tantangan kegiatan operasi hulu migas di wilayah ini yang tidak mudah. Misalnya, rencana pengeboran pengembangan Lapindo Brantas yang belum berjalan karena kondisi nonteknis membangun sinergitas semua pemangku kepentingan.



Padahal, menurutnya, sosialisasi kondisi industri hulu migas dengan pemangku kepentingan penting agar meningkatkan pemahaman. Adapun lapangan yang berproduksi di Indonesia, sebagian besar lapangan tua yang secara alamiah menurun produksinya.

"Sedangkan saat ini belum ditemukan cadangan migas yang besar, sehingga kegiatan eksplorasi yang masif atau pencarian cadangan migas baru mutlak harus dilakukan," jelas Ali.

Lalu, tingginya tingkat risiko eksplorasi dari segi biaya, ketidakpastian, dan lamanya waktu juga menyebabkan kegiatan ini belum terlihat ada peningkatan yang signifikan. Hal tersebut harus dipahami semua pihak.

Kemudian dengan merosotnya harga minyak dunia berpengaruh terhadap menurunnya iklim investasi karena selisih biaya operasi dan harga jual minyak mentah tipis atau bahkan impas. Selain dipengaruhi faktor harga minyak dunia, kondisi ini disebabkan aspek finansial investor serta aspek nonteknis, seperti penyiapan lahan, permasalahan sosial serta regulasi pusat dan daerah.

"Perlu ada dorongan dari seluruh pihak agar investasi migas kembali membaik," pungkas Ali.

 


(ABD)