Wamen ESDM: Rezim Fiskal Baru Hulu Migas Makin Diminati

Suci Sedya Utami    •    Selasa, 11 Dec 2018 19:26 WIB
migas
Wamen ESDM: Rezim Fiskal Baru Hulu Migas Makin Diminati
Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)

Jakarta: Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan rezim fiskal baru yang dibuat pemerintah untuk industri hulu migas yakni skema bagi hasil atau gross split makin diminati banyak investor.

Arcandra mengatakan perlahan banyak kontraktor migas yang memilih menggunakan skema gross split. Yang terbaru yakni dengan berakhirnya kontrak Wilayah Kerja atau Blok East Sepinggan, Kalimantan Timur dari cost recovery menjadi gross split. Kontraktor pengelola blok tersebut yaitu Eni East Sepinggan Ltd mengusulkan perubahan tersebut.

"Kami senang bahwa rezim fiskal baru kami cukup menarik bagi salah satu perusahaan minyak terbesar," kata Arcandra, di Kementerian EDM, Jakarta Pusat, Selasa, 11 Desember 2018.

Dia mengatakan hal ini membuktikan skema gross split makin atraktif. Sebab Arcandra mengaku banyak menerima surat yang berisi bahwa gross split gagal untuk menarik investor.

"Tetapi hari ini Anda saksikan East Sepinggan. Mereka mulai dengan cost recovery dan setelah berdebat panjang tentang biaya dan hasil dengan penundaan jadwal proyek kurang lebih setahun. Mereka memutuskan untuk berubah menjadi gross split," tutur Arcandra.

Dirinya mengatakan hal ini tidak terlepas dari keunggulan skema gross split. Arcandra mengatakan skema ini istimewa karena selain memiliki kepastian (certainty), gross split dipandang lebih efisien dan sederhana dari sisi waktu.

Lebih jauh dia menambahkan sejak diberlakukan pada awal 2017, 31 blok migas telah menggunakan skema gross split yang mana 30 di antaranya merupakan blok yang dilelang karena masa kontraknya akan berakhir di antaranya:

Di 2017 ada wilayah kerja (WK) atau Blok Andaman I, Andaman II, Merak Lampung, Pekawai dan West Yamdena. Sedangkan hasil lelang tahun 2018 yakni WK Citarum, East Ganal, East Seram, Southeast Jambi, South Jambi B dan Banyumas.

Sedangkan sisa 19 WK lainnya merupakan WK terminasi yang masa kontraknya berakhir mulai 2017 hingga 2022. WK yang kontraknya berakhir 2017 adalah Offshore North West Java. Sedangkan yang berakhir 2018 adalah North Sumatera Offshore, Ogan Komering, South East Sumatera, Tuban, Sanga-Sanga dan East Kalimantan.

WK migas yang kontraknya berakhir 2019 adalah Jambi Merang, Raja/Pendopo, Bula dan Seram-Non Bula. Kontrak yang berakhir 2020 yaitu Malacca Straits, Brantas, Salawati, dan Kepala Burung.

Sementara WK yang kontraknya berakhir 2021 adalah Rokan. WK yang berakhir 2022 ialah WK Tarakan, WK Coastal Plains and Pekanbaru (CPP) dan WK Tungkal.


(AHL)