Pasca Terbentuk Holding Tambang,

Holding Inalum Bentuk Rencana Jangka Panjang

Annisa ayu artanti    •    Senin, 04 Dec 2017 19:40 WIB
holding bumn
<i>Holding</i> Inalum Bentuk Rencana Jangka Panjang
lustrasi produk milik Inalum. ANT/Irsan Mulyadi.

Jakarta: Pasca terbentuknya holding BUMN pertambangan, tiga BUMN pertambangan yakni PT Aneka Tambang (Antam), PT Bukit Asam, dan PT Timah beserta induk usaha PT Indonesia Asahan Aluminium akan segera membentuk rencana jangka panjang.

Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengatakan ada rencana jangka panjang yang akan dilakukan holding BUMN tambang setelah terbentuk. Mulai hilirisasi sampai pembelian saham PT Freeport Indonesia sebesar 40,64 persen. Saat ini holding BUMN pertambangan tengah mempersiapkan peta jangka panjang.

"Sekarang akan berkonsolidasi dengan tiga BUMN tambang lainnya untuk membuat road map jangka panjang," kata Fajar di Kantor Kementerian BUMN, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin, 4 Desember 2017.

Ia menyebut selama ini sebagian besar hilirisasi tambang dilakukan di luar negeri. Padahal jika dilakukan di dalam negeri dapat meningkatkan nilai tambah sangat besar. Contohnya adalah ekspor mineral mentah bauksit yang merupakan bahan dasar alumina.

"Kita ekspor mentah bauksit. Lalu kita impor 100 persen alumina. Perbedaannya kita ekspor bauksit USD1. Lalu kalau kita impor alumina USD8. Artinya 8 kali nilai tambah terjadi di luar negeri. Ini yang kita ingin tarik ke dalam negeri," jelaa dia.

Ia juga mengatakan, jika alumina tersebut diolah lagi menjadi produk turunan seperti billey, sled, dan aloy didalam negeri maka ditaksir akan menciptakan nilai tambah yang jauh lebih besar.

"Itu 30 kali dari bauksit," imbuh dia.

Senada dengan bauksit, batu bara juga demikian. Melalui pembentukan holding diharapkan perusahaan holding dapat mengolah batu bara supaya dapat dimanfaatkan maksimal di dalam negeri. Selama ini sekitar 80 persen dari total produksi nasional diekspor ke luar negeri. Sementara sisanya yakni 20 persen digunakan untuk kebutuhan bahan bakar pembangkit.

Pemerintah menginginkan holding tambang dapat memanfaatkan batu bara melalui proses gasifikasi dimana batu bara dapat diturunkan lagi untuk industri pupuk, petrokimia, dan pembangkit.

"Bu menteri menginginkan batu bara tidak ada aliran keluar masuk batubara. Batu bara diproses ditempat menjadi listrik menjadi gas. Itu kemudian diturunkan lagi menjadi pupuk dan petrokimia. Itu (gasifikasi) enam tahun tidak jalan-jalan," jelas dia.

Sementara untuk pengambil alihan saham Freeport, ia menambahkan, masih dalam proses negosiasi. Pemerintah akan fokus tiga bulan kedepan masalah divestasi selesai.

"Ini kita masih melaksanakan proses negosiasi proses penyempurnaan divestasi Freeport. 9,36 sudah di Inalum 40,64 persen sisanya. Itu fokus kita dalam 2-3 bulan kedepan," tutup dia.


 


(SAW)

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

The Fed Naikkan Suku Bunga AS

1 day Ago

Federal Reserve AS atau bank sentral AS pada akhir pertemuan kebijakan dua harinya pada Rabu wa…

BERITA LAINNYA