PLN Rela 'Puasa' Naikkan Tarif Listrik

Suci Sedya Utami    •    Selasa, 05 Feb 2019 14:17 WIB
plntarif listrik
PLN Rela 'Puasa' Naikkan Tarif Listrik
Ilustrasi (MI/Panca Syurkani)

Jakarta: PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) menyatakan tidak akan ada penaikan tarif listrik hingga akhir 2019. Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga daya beli masyarakat yang harapannya bisa memaksimalkan laju konsumsi guna membentuk pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Direktur Utama PLN Sofyan Basir mengatakan perseroan telah menahan penyesuaian tarif ke atas sejak 2015. Walaupun ada kenaikan harga batu bara ditambah minyak dunia, Sofyan menambahkan, namun PLN tetap menahan penaikan tarif listrik.

"Kami puasa tarif sudah tiga tahun lebih," kata Sofyan, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin malam, 4 Februari 2019.

Sofyan mengungkapkan meskipun tidak menaikkan tarif, tetapi dipastikan keuangan PLN tetap sehat. Bahkan, mantan Direktur Utama BRI ini menegaskan, PLN masih mampu mencetak laba. Kendati demikian, dirinya enggan menyebutkan besaran keuntungan tersebut.

"Untung pokoknya mengejutkan. Pokoknya buat semua senang karena tarif (listrik untuk) kalian enggak perlu naik," ujar dia, seraya menambahkan arah kedepannya akan ada penurunan tarif untuk golongan industri di 2022.

Gelontorkan Rp99 Triliun untuk Investasi 2019

Lebih lanjut, Sofyan mengatakan, PLN menggelontorkan dana sebesar Rp99 triliun untuk investasi di bidang kelistrikan di Tahun Anggaran 2019. "Investasi PLN Rp99 triliun total," kata Sofyan Basyir.

Besaran tersebut memang lebih kecil dibandingkan dengan target investasi tahun lalu yang Sofyan sebutkan mencapai Rp123 triliun, meski pada kenyataannya realisasi investasi tahun lalu sebesar Rp80 triliun. Namun, dirinya enggan dikatakan realisasi tersebut jauh dari target. Dia bilang ada efisiensi dalam pelaksanaannya sehingga bisa menekan biaya investasi.

Sebelumnya Direktur Keuangan PLN Sarwono Sudarto mengatakan untuk meningkatkan besaran investasi perseroan berencana menerbitkan kembali obligasi global (global bond). Namun dirinya belum mau merinci terkait rencana penerbitan tersebut untuk tahun ini.

"Nanti kita lihat, kita masih punya uang. Tapi pilihan kita itu banyak, enggak cuma global bond, ada lokal bond dan kita juga bisa pilih pinjaman atau sekuritisasi. Kita pilih mana yang paling bagus, murah, tepat waktu dan harga yang tepat," tutur dia.

Adapun dana-dana tersebut tentunya dipergunakan untuk membiayai pembangunan pembangkit 35 ribu MW lantaran program pembangunan tersebut membutuhkan banyak pendanaan.


(ABD)