Kendala Percepatan Pengembangan Pembangkit Listrik

Husen Miftahudin    •    Selasa, 16 May 2017 18:13 WIB
pembangkit listrik
Kendala Percepatan Pengembangan Pembangkit Listrik
Ilustrasi panas bumi. (FOTO: ANTARA/Novrian Arbi)

Metrotvnews.com, Jakarta: Sengketa usaha panas bumi yang melibatkan BUMN PT Geo Dipa Energi (Persero) dengan swasta PT Bumigas Energi dinilai menghambat percepatan pembangunan program listrik Pemerintahan Jokowi-JK.

"Pemerintah harus bantu menyelesaikan masalah sengketa mengenai panas bumi. Sengketa ini menghambat berjalannya proyek pengembangan PLTP Dieng dan PLTP Patuha, yang merupakan bagian dari program percepatan pembangkit listrik 10.000 MW tahap II," kata Ketua Forum Peduli Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Romadhon Jasn dalam keterangan yang diterima Metrotvnews.com, Jakarta, Selasa 16 Mei 2017.

Menurut Romadhon, proyek-proyek yang dikerjakan BUMN ini merupakan bagian dari program infrastruktur kelistrikan 35.000 MW. Dia menyebut, sengkarut Geo Dipa dan Bumigas berpotensi merugikan keuangan negara.

Baca: Geo Dipa Kelola Panas Bumi di Dieng dan Patuha

Kuasa hukum Geo Dipa, Heru Mardijarto, menjelaskan bahwa sengketa bermula saat Bumigas tidak mampu memenuhi kewajiban kontrak sehingga Geo Dipa menerbitkan warning letter dan ditutup dengan Notice of Default.

Tak terpenuhinya kontrak Bumigas diputuskan oleh Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) pada Juli 2008. Bumigas kemudian mempersoalkan keputusan BANI tersebut. Hingga saat ini proses hukum terus berlanjut.

Diberitakan sebelumnya, Geo Dipa merupakan pengelola lapangan panas bumi di Dieng, Jawa Tengah dan Patuha, Jawa Barat.

Geo Dipa mendapat hak pengelolaan Wilayah Kuasa Pertambangan (WKP) Area Dieng dan Area Patuha terhitung sejak 4 September 2002. Kemudian, Geo Dipa mendapat penegasan sebagai pengelola WKP Dataran Tinggi Dieng, terhitung mulai 1 Januari 2007 melalui Peraturan Menteri ESDM No. 2192.K/30/ MEM/2014.

Geo Dipa sudah mengoperasikan PLTP Patuha unit 1 (60 MW). Namun, saat ini, perizinan Geo Dipa sedang dipermasalahkan oleh mantan mitra kerjanya yang sebelumnya digandeng membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTPB).

 


(AHL)