Saatnya Menuju BBM Berkualitas

Ade Hapsari Lestarini    •    Sabtu, 06 Jan 2018 18:41 WIB
bbmpremium
<i>Saatnya Menuju BBM Berkualitas</i>
Ilustrasi. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)

Jakarta: Pemerintah diusulkan menghapus bahan bakar minyak (BBM) RON rendah seperti premium. Menyusul sudah tidak sesuainya BBM tersebut dengan kondisi mesin kendaraan.

"Sesungguhnya BBM RON rendah lebih boros dan berdampak negatif pada mesin. Sebaiknya dihapus saja," kata pengamat otomotif Bebin Djuana, dalam keterangannya, di Jakarta, Sabtu, 6 Januari 2018.

Dia mengatakan penghapusan BBM RON rendah menuju BBM berkualitas sudah tidak bisa ditawar. Terlebih, kebijakan seperti itu sudah harus dilakukan sejak awal 2000-an.

Menurutnya mesin kendaraan berrmotor keluaran terbaru sudah tidak diperuntukkan bagi BBM RON rendah seperti premium. Jika dipaksakan, maka akan memunculkan banyak masalah.

"Karena pembakaran tidak sempurna, maka mesin akan menjadi mengelitik, tenaga berkurang, dan membuat mesin tidak awet. Kesannya murah dan hemat, tetapi sebenarnya sangat merugikan pengguna," tutur dia.

Namun demikian, dia mengapresiasi tren penurunan konsumsi premium dalam beberapa bulan terakhir, yang merupakan salah satu indikasi bahwa konsumen sudah mulai cerdas memilih BBM.




Keunggulan BBM RON Tinggi

Oleh karena itu, pengguna diimbau untuk menggunakan BBM RON tinggi seperti seri pertamax. Apabila BBM berkualitas, maka performa dan keawetan mesin juga sangat terjaga. Sehingga tidak menjadi persoalan ketika kendaraan keluaran lama mempergunakan Pertamax.

"Bahkan, untuk kendaraan tahun 70-an pun tidak masalah. Malah bagus kan. Kan kualitas 'gizinya' semakin baik," lanjut dia.

Secara terpisah, Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad Syafruddin juga mendukung penghapusan BBM yang memiliki RON rendah. Selain berdampak negatif bagi mesin kendaraan bermotor, BBM RON rendah juga berakibat buruk terhadap lingkungan hidup dan kesehatan.

"Karena pembakaran tidak sempurna, maka BBM RON rendah akan menghasilkan emisi sangat tinggi. Selain itu, juga akan menghasilkan karbon monoksida dan nitrogen dioksida yang juga tinggi," kata Syafruddin.

Dia mengatakan, di tengah kebijakan Pemerintah dalam menerapkan standar emisi Euro-4, ternyata BBM RON rendah pun sudah tidak sesuai bagi standar emisi Euro-2. Kendaraan dengan standar Euro-2 tersebut minimal memilki Compression Ratio 9:1.

"Bahkan mobil low cost green car (LCGC) seperti Datsun Go, Datsun Panca, Toyota Agya, Daihatsu Ayla, pun memiliki rata-rata CR 10:1. Jadi kalau diisi BBM berkualitas rendah, maka kendaraan tersebut akan rusak. Belum lagi, tingkat keborosan yang mencapai 20 persen," jelasnya.

 


(AHL)