APLSI Menilai Industri Hulu Energi Belum Digarap Serius

Annisa ayu artanti    •    Minggu, 06 Aug 2017 13:14 WIB
migas
APLSI Menilai Industri Hulu Energi Belum Digarap Serius
Illustrasi (ANT/Akbar Nugroho Gumay).

Metrotvnews.com, Jakarta: Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) menilai pasar industri dalam mengembangkan ketenagalistrikan di Indonesia sangat besar tetapi sektor industri yang menyediakan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) energi belum serius digarap.

Sekretaris Jenderal APLSI Priamanaya Djan mengatakan, jika industri pendukung TKDN energi digarap akan mampu menahan laju deindustrialisasi.

"Ada peluang pasar TKDN sangat terbuka. Misalnya pemerintah terus menggenjot dan mengingatkan TKDN di sektor energi dan industri lainnya. Artinya, disisi hilir ada demand yang akan tercipta," kata Priamanaya dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu 6 Agustus 2017.

baca : Kinerja Produksi Pertamina Hulu Energi Nyaris Capai Target

Menurutnya, dari sisi hulu, industrilisasi TKDN energi belum tergarap optimal. Meskipun dalam kebijakan pemerintah telah mengeluarkan berbagai persyaratan untuk meningkatkan penggunaan TKDN. Tingginya permintaan di sisi hilir TKDN, belum diimbangi dengan suplai dari industri.

"Tapi di hulunya suplainya belum digarap optimal kebijakannya,” ujar Priamanaya.

APLSI meminta pemerintah menggenjot TKDN dalam pembangunan ditransmisi proyek 35ribu Megawatt (MW) tahun depan. Dengan total panjang 46.000 Kms yang akan dibangun dalam proyek 35 ribu MW, pembangunan transmisi dapat menyerap TKDN sebesar Rp200 triliun dalam waktu lima tahun dimulai dari 2015.

Ia yakin dengan menggenjot industri dalam negeri untuk mensuplai kebutuhan pembangunan transmisi dianggap ampuh untuk mendorong gairah industri peralatan listrik nasional yang sedang loyo.

"Kita berharap pemerintah mendorong TKDN di transmisi 35ribu MW tahun depan. Ini salah satu langka awal mendorong gairah di industri peralatan dan konstruksi listrik nasional," ujar dia.

Ia menambahkan, mendorong TKDN dalam pembangunan transmisi saat ini memang cukup realistis sebab teknologi konstruksi baja sudah cukup dikuasai di dalam negeri. Saat ini TKDN dalam pembangunan transmisi mencapai lebih dari 60 persen. Namun, TKDN ini perlu digenjot lagi secara maksimal sekaligus mendorong industri baja nasional.

"Kelemahan kita masih disoal turbin dan sedikit diboiler. Jadi, pembangkitnya dari luar tapi kita kejar TKDN di transmisi atau di sutet itu dalam negeri saja," pungkas Pria.

 


(SAW)