PLN Bakal Serap 451 Ribu KL Biodiesel untuk PLTD

Husen Miftahudin    •    Kamis, 23 Aug 2018 20:06 WIB
plnbiofuel
PLN Bakal Serap 451 Ribu KL Biodiesel untuk PLTD
Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Djoko Rahardjo Abu Manan. (FOTO: Medcom.id/Husen)

Jakarta: PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) bakal menyerap penggunaan biodiesel sebagai bahan bakar campuran untuk pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). Hal ini untuk memenuhi ketentuan penggunaan 20 persen biodiesel (B20).

Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Djoko Rahardjo Abu Manan mengatakan sebanyak 4.435 unit PLTD milik PLN yang tersebar di seluruh Indonesia menggunakan bahan bakar sebanyak 2,26 juta kiloliter (kl) per tahun. Dari jumlah itu, sebanyak 20 persen di antaranya bakal menggunakan 451 ribu kl biodiesel.

"PLN selama ini (menggunakan) 2,2 juta kl (bahan bakar untuk PLTD) per tahun. Mulai 1 September PLN (gunakan B20) dari 2,2 juta kl itu," ujar Djoko, di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Kamis, 23 Agustus 2018.

Selama ini, pembangkit PLN menggunakan bahan bakar campuran untuk menggerakkan mesin diesel mereka. Ada beberapa PLTD yang sudah menggunakan 30 persen biodiesel, namun hanya di kota-kota tertentu.

"Tahun lalu kami menggunakan FAME (Fatty Acid Methyl Ester/biodiesel) B30 sebanyak 294 ribu kiloliter. Tapi itu tergantung supplier karena enggak semua depo Pertamina menyiapkan B30," bebernya.

Menurut Djoko, adanya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 66 Tahun 2018 tentang perubahan kedua atas Perpres 61/2015 tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit membuat PLN harus menggunakan campuran 20 persen biodiesel sebagai bahan bakar pembangkit. Maka itu, per 1 September 2018 seluruh PLTD milik PLN bakal menyerap biodiesel.

"Mesin kami sudah siap. Supplier-nya juga sudah siap memasok (biodiesel)," ungkap dia.

Adapun selama ini PLN membeli biodiesel dari tiga supplier, yakni Pertamina, AKR Corporindo, dan PT Kutilang Paksi Mas (KPM). "Yang siap (pasok B20) hanya Pertamina, tapi sekarang kan ada Perpres 68/2018, jadi semuanya harus siap," jelas Djoko.

Sementara itu, Plt Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengaku siap menjual B20 kepada PLN. Berapa pun biodiesel yang dibutuhkan PLN, Pertamina siap memasok.

"1 September kami siap. Kalau PLN belinya banyak, saya alokasinya banyak," tutup Nicke.

Penerapan B20 diyakini bisa menekan defisit neraca perdagangan yang disebabkan impor minyak mentah (crude) yang tinggi. Hitung-hitungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), penghematan impor crude dari kebijakan B20 pada 2018 sebesar USD2 miliar atau setara Rp28 triliun. Sementara pada tahun depan penghematannya bisa mencapai sebanyak USD4 miliar.

 


(AHL)