Harga CPO Masih Dipengaruhi Faktor Eksternal

   •    Jumat, 08 Jun 2018 17:13 WIB
cpo
Harga CPO Masih Dipengaruhi Faktor Eksternal
Ilustrasi. (FOTO: ANTARA/Feri)

Jakarta: Transaksi crude palm oil (CPO) pada perdagangan Kamis, 7 Juni 2018 ditutup di level 2.388 ringgit Malaysia, dengan histori pada hari perdagangan tersebut menyentuh harga rendah (low) di 2.375 ringgit Malaysia serta harga tinggi (high) di 2.399 ringgit Malaysia.

CPO berjangka Malaysia memperpanjang penurunan pada perdagangan Kamis, mencapai terendah dalam satu bulan karena terdapat kekhawatiran lanjutan tentang prospek permintaan yang lemah, di saat yang sama penurunan harga kedelai di bursa Chicago juga membebani pasar.

Kontrak CPO untuk pengiriman Agustus di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 0,25 persen menjadi 2.388 ringgit Malaysia atau setara dengan USD600,75 per metrik ton. Pada dasarnya permintaan yang lemah menyebabkan harga kembali mengalami pelemahan sampai berakhirnya sesi perdagangan

Perdagangan Jumat 8 Juni 2018, saat tulisan ini disusun, pergerakan harga CPO sedang berada pada level 2.376 ringgit Malaysia. Dengan perdagangan hari ini dibuka pada harga 2.378 ringgit Malaysia. Sementara harga tinggi (high) tercatat berada di 2.382 ringgit Malaysia, dan harga rendah (low) di 2.369 ringgit Malaysia.

"CPO berjangka Malaysia memperpanjang kerugian pada sesi perdagangan Jumat mencapai terendah dalam satu bulan, terimbas oleh kondisi harga kedelai yang lemah di Bursa Chicago. Sementara pertumbuhan permintaan yang melambat dan persediaan yang lebih tinggi juga membebani harga komoditas tersebut," tutur Analis Monex Investindo Futures Arie Nurhadi, dalam hasil risetnya, Jumat, 8 Juni 2018.

Kontrak CPO untuk pengiriman Agustus di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 0,46 persen pada 2.376 ringgit Malaysia atau setara dengan USD596,69 per metrik ton. Bahwa CPO jatuh karena imbas kelemahan yang dialami komoditas kedelai.

Kontrak kedelai AS di Chicago Board of Trade kehilangan 4,9 persen pada minggu ini. Kedelai pada Jumat mencapai titik terendah terhitung sejak 6 Februari 2018 di USD9,72 per bushel.

Pasar CPO lebih rendah sejalan dengan melemahnya harga kedelai yang bearish setelah keputusan yang diambil oleh Tiongkok untuk mulai menjual komoditas kedelai dari cadangan negara. Adapun negara Tiongkok akan memulai lelang kedelainya dari cadangan negara mulai 14 Juni, menurut kabar yang dirilis oleh National Grain Trade Center.

Sementara Kolombia mengantisipasi kenaikan 56 persen produksi CPO-nya selama lima tahun ke depan. Fedelpalma selaku asosiasi nasional petani CPO di Kolombia memperkirakan produksi tahunan akan tumbuh menjadi 2,50 juta ton pada 2023, yang akan menjadikan Kolombia sebagai produsen CPO terbesar ketiga di dunia, melampaui Thailand.

Kolombia saat ini memiliki sekitar 500 ribu hektare perkebunan kelapa sawit yang ditanam dan dengan sebagian besar saat ini memasuki usia produksi optimal, Fedelpalma mengatakan akan fokus pada pengembangan lahan yang sudah ada daripada memperluas area yang ditanami, mengingat perluasan itu akan memerlukan persetujuan pemerintah dan investasi. Pada situasi ini negara Malaysia dan Indonesia menguasai 80 persen produksi CPO global.

Potensi penguatan lanjutan perlu konfirmasi penembusan harga pada level resistance di kisaran: 
- 2.418 ringgit Malaysia (resistance 3).
- 2.405 ringgit Malaysia (resistance 2).
- 2.392 ringgit Malaysia (resistance 1).

Potensi pelemahan yang dapat terjadi dengan acuan support di kisaran harga:
- 2.359 ringgit Malaysia (support 1).
- 2.310 ringgit Malaysia (support 2).
- 2.289 ringgit Malaysia (support 3).


(AHL)


Kepailitan Sariwangi Tidak Memengaruhi Industri Makanan

Kepailitan Sariwangi Tidak Memengaruhi Industri Makanan

3 days Ago

Kepailitan Sariwangi AEA dan anak usahanya yaitu PT Maskapai Perkebunan Indorub Sumber Wadung (…

BERITA LAINNYA