Pertemuan IMF-Bank Dunia 2017

Sri Mulyani Pamer Ekonomi RI Jauh Lebih Tangguh di Sela Acara IMF-World Bank

Suci Sedya Utami    •    Jumat, 13 Oct 2017 11:45 WIB
imf-world bank
Sri Mulyani Pamer Ekonomi RI Jauh Lebih Tangguh di Sela Acara IMF-World Bank
Menteri Keuangan Sri Mulyani saat menghadiri pertemuan IMF-Bank Dunia 2017. (FOTO: AFP)

Metrotvnews.com, Washington DC: Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati di sela-sela pertemuan tahunan IMF-World Bank 2017 menyatakan kondisi ekonomi Indonesia yang sudah mengalami perubahan jauh ke arah yang lebih baik saat ini.

Mengutip wawancara Sri Mulyani atau yang akrab disapa Ani dengan CNBC, Jumat 13 Oktober 2017, dia mengatakan perbaikan ekonomi Indonesia tidak lepas dari bagaimana cara pemerintah dan pemangku kebijakan mencoba untuk membangun fundamental dan fondasi yang lebih kuat dari berbagai guncangan.

"Perekonomian Indonesia sekarang jauh lebih tangguh dan ini ada kaitannya dengan fondasi yang lebih kuat  dari cara kita mengelola ekonomi," kata Ani dalam wawancara tersebut.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini relatif stabil dan berada pada level 5,6 persen pada dekade ini. Angka itu dihasilkan dari kontribusi yang seimbang antara faktor domestik seperti konsumsi, pertumbuhan investasi yang kuat, kendati dihadapkan dengan banyak kejutan seperti penurunan harga komoditas.

Di sisi lain, dia menjelaskan saat ini pemerintah sudah tak dihantui oleh subsidi BBM, sebab saat ini alokasinya jauh lebih rendah sejak Presiden Joko Widodo memutuskan untuk mencabut subsidi premium di 2015. Hal itu membuat ruang fiskal Indonesia tak dihadapi pada defisit yang disebabkan oleh kegiatan tak produktif.

"Sebenarnya presiden melakukan keputusan yang sangat bagus kembali di 2015, saat menggeser subsidi, subsidi BBM ke dalam pembangunan infrastruktur. Jadi kebijakan fiskal yang kredibel lebih baik dalam hal pendapatan," tutur Ani.

Selain itu, neraca pembayaran, defisit transaksi berjalan turun di bawah dua persen. Indonesia juga memiliki investasi asing langsung (FDI) yang sangat kuat yang menurut dirinya penting.

Dari pengaruh global, Ani menambahkan perilaku pasar keuangan jauh lebih rasional. Hal ini ditunjukkan dari penurunan tingkat bunga acuan (BI 7 days repo rate) di tengah ancaman kenaikan tingkat bunga AS.

"Jadi bahkan ketika tingkat suku bunga meningkat di Amerika Serikat, kami sebenarnya menurunkan tingkat suku bunga kurs repo Bank Indonesia," jelas dia.

 


(AHL)