Perang Dagang Berimbas ke Mata Uang Negara Berkembang

Kautsar Widya Prabowo    •    Kamis, 12 Jul 2018 19:03 WIB
Perang dagang
Perang Dagang Berimbas ke Mata Uang Negara Berkembang
Ilustrasi. (FOTO: MI/Ramdani)

Jakarta: Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menjelaskan perang dagang yang semakin memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok berdampak pada mata uang negara berkembang yang semakin tertekan.

"Negara berkembang sangat tertekan dari Argentina, Turki, Pakistan, India, Filipina, Indonesia semuanya sangat tertekan," ujar Kepala BKPM Thomas Trikasih Lembong, di kantornya, Jakarta , Kamis, 12 Juli 2018.

Selain itu, pasar modal di Amerika Serikat (AS) juga langsung menyesuaikan. Di mana negara importir menerapkan harga menjadi mahal dan negara eksportir menjadi lebih murah.

"Dampaknya ke masyarakat juga. Melihat kurs mata uang asing, kurs menjadi salah satu faktor utama di balik sentimen investasi," tambahnya.

Saat ini gerak rupiah semakin terbatas dan mendarat ke level Rp14.445 per USD. Rupiah melemah hingga mencapai 60 poin atau setara 0,42 persen.

Mengutip data Yahoo Finance, nilai tukar rupiah pagi ini dibuka melemah ke level Rp14.437 per USD dibandingkan sebelumnya di level Rp14.380 per USD. Rupiah melemah hingga 57 poin atau setara 0,40 persen.

AS sebelumnya telah meningkatkan perang dagang dengan Tiongkok. AS mengancam segera memberlakukan tarif baru untuk barang-barang Tiongkok senilai USD200 miliar paling cepat pada September, dan hal ini memicu kemarahan di Beijing.

Melansir dari AFP, Rabu, 11 Juli 2018, ancaman terbaru dalam konflik perdagangan antara dua negara dengan ekonomi teratas di dunia terjadi hanya beberapa hari setelah tarif "saling balas" sebesar USD34 miliar mulai berlaku.

 


(AHL)