Brexit Dinilai Sulit Terjadi

Angga Bratadharma    •    Rabu, 12 Jul 2017 09:31 WIB
brexitekonomi inggris
Brexit Dinilai Sulit Terjadi
Ilustrasi (REUTERS/Neil Hall)

Metrotvnews.com, London: Pintu keluar yang dijadwalkan Inggris dari Uni Eropa mungkin tidak akan pernah terjadi karena partai politik utamanya terbagi dalam masalah. Tidak ditampik, keputusan Inggris untuk keluar dari keanggotaan Uni Eropa atau Brexit memang memberikan persoalan tersendiri, terutama dari aspek perekonomian.

Vince Cable, seorang anggota parlemen veteran yang mengajukan tawaran untuk memimpin partai politik terbesar keempat, Demokrat Liberal, mengatakan, kegagalan Perdana Menteri Inggris Theresa May untuk memenangkan mayoritas secara langsung dalam pemilihan nasional yang cepat bulan lalu telah meragukan kemampuannya untuk memimpin Inggris keluar dari UE.

Kondisi itu mempertajam sebuah debat mengenai kesepakatan keluar macam apa yang harus dicari oleh pemerintah. Dalam hal ini, May mendapatkan tekanan cukup berat lantaran proses Brexit dinilai memberikan risiko tersendiri. Apalagi, sejumlah perusahaan keuangan besar di Inggris berencana memindahkan operasionalnya usai Brexit.

"Saya mulai berpikir bahwa Brexit mungkin tidak akan pernah terjadi. Masalahnya sangat besar lantaran perpecahan di dalam dua partai besar begitu besar sehingga saya dapat melihat skenario di mana hal ini tidak terjadi," kata Cable, seperti dikutip dari Reuters, Rabu 12 Juli 2017.

Cable menjabat sebagai menteri bisnis di 2010-2015 ketika Demokrat Liberal pro-Eropa menjadi mitra junior di sebuah pemerintahan koalisi yang dipimpin oleh Partai Konservatif May. Dia saat ini satu-satunya kandidat dalam kontes kepemimpinan partainya. Pengaruh Liberal Demokrat berkurang sejak 2015, dan mereka hanya memiliki 12 dari 650 kursi di parlemen.

Mereka berkampanye dalam pemilihan 2017 untuk memberi warga Inggris referendum kedua untuk meninggalkan Uni Eropa setelah kesepakatan akhir telah disepakati -sesuatu yang Cable gambarkan sebagai jalan keluar terkait Brexit yang memungkinkan. Konservatif secara historis terbagi antara faksi eurosceptic yang sangat dalam dan anggota yang lebih pro-Eropa.

Hal itu diharapkan bisa membuat hidup sulit bagi May ketika dia menempatkan undang-undang Brexit melalui parlemen karena dia harus mempersatukan partai tersebut untuk memenangkan suara kunci. Partai terbesar kedua, Partai Buruh, juga terbelah oleh ketidaksepakatan mengenai kesepakatan seperti apa yang paling sesuai bagi ekonomi Inggris.

 


(ABD)