Harga Minyak Dunia Tergelincir

Angga Bratadharma    •    Sabtu, 08 Sep 2018 08:06 WIB
minyak mentah
Harga Minyak Dunia Tergelincir
Ilustrasi (FOTO: AFP)

New York: Harga minyak dunia tergelincir pada Jumat waktu setempat (Sabtu WIB) untuk sesi ketiga berturut-turut karena terbebani oleh dolar Amerika Serikat (USD) yang kuat. Selain itu, harga minyak melemah diakibatkan tertekannya pasar ekuitas dan dampak badai Gordon yang lebih besar dari perkiraan terhadap produksi minyak Teluk AS.

Mengutip CNBC, Sabtu, 8 September 2018, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 2 sen menjadi USD67,75 per barel. Untuk minggu ini, WTI ditetapkan untuk kehilangan lebih dari 3,5 persen dan Brent berada di jalur untuk turun 1,6 persen.

Harga minyak telah membukukan keuntungan di awal minggu karena badai Gordon memaksa penutupan platform minyak Teluk Meksiko dan mengancam kilang di Pantai Teluk. "Pasar mendapat terlalu banyak keuntungan yang tinggi sebelum badai tropis tapi banyak kelemahan dalam seminggu sejak itu," kata Analis Price Futures Group Phil Flynn, di Chicago.

Badai akhirnya melemah dan menjauh dari daerah-daerah penghasil minyak dan perusahaan-perusahaan energi memulai kembali operasi mereka. USD naik terhadap sekeranjang mata uang lainnya setelah sebuah laporan menunjukkan pertumbuhan pekerjaan AS melonjak pada Agustus dan upah mencatat kenaikan tahunan terbesar mereka dalam lebih dari sembilan tahun.



Data pekerjaan meningkatkan kekhawatiran tentang kemungkinan kenaikan suku bunga lebih cepat, yang pada gilirannya menekan pasar ekuitas. Pan-Eropa STOXX 600 memiliki kinerja mingguan terburuknya sejak akhir Maret, sementara pasar saham yang sedang tumbuh turun 3,2 persen.

Harga minyak AS juga masih terbebani oleh data persediaan yang mengecewakan dari Administrasi Informasi Energi AS, kata analis. Persediaan minyak mentah AS pekan lalu turun 4,3 juta barel menjadi 401,49 juta barel, terendah sejak Februari 2015, data EIA menunjukkan.

Sementara itu, sanksi AS terhadap produsen minyak utama Iran memicu ekspektasi pasar yang lebih ketat. Langkah tersebut tidak ditampik memberikan efek terhadap stabilitas pasar minyak dunia. "Pendorong utama harga minyak, dalam pandangan kami, tetap merupakan reimposisi sanksi AS terhadap konsumen minyak Iran," ungkap Standard Chartered.

 


(ABD)