Ekspor Tiongkok Jatuh 10% di September 2016

Arif Wicaksono    •    Kamis, 13 Oct 2016 14:47 WIB
tiongkok
Ekspor Tiongkok Jatuh 10% di September 2016
Aktivitas Ekonomi di Tiongkok. AFP PHOTO/GREG BAKER.

Metrotvnews.com, Beijing: Ekspor Tiongkok  jatuh 10,0 persen  dibandingkan dengan tahun sebelumnya dengan  menjadi USD184,5 miliar pada September 2016, sebagaimana tercantum dalam data pemerintah. Hal ini menandakan anemia permintaan global membebani negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia itu.

Perwakilan Bea Cukai Tiongkok mengatakan impor turun 1,9 persen dalam setahun pada periode yang sama dengan mencapai  USD142,5 miliar, dan akibatnya surplus perdagangan turun menjadi USD42,0 miliar.

"Masih ada hambatan yang jelas menghadapi perkembangan perdagangan luar negeri Tiongkok," kata juru bicara Bea Cukai Tiongkok Huang Songping sebagaimana dikutip dari Strait Times, Kamis (13/10/2016). 

Ekspetasi pertumbuhan Ekspor dan impor semakin menjauhi harapan. Hal ini hadir dengan survei Bloomberg terhadap para ekonom memperkirakan penurunan sebesar 3,3 persen untuk ekspor dan kenaikan 0,6 persen pada impor pada tahun ini.

Peran Tiongkok sangat penting untuk mendorong perekonomian global dan kinerjanya mempengaruhi mitra dari Australia ke Zambia, yang telah terpukul oleh pertumbuhan melambatnya perekonomian Tiongkok.

"Pertumbuhan Dunia tetap lamban dan perdagangan global tidak memiliki dukungan yang efektif," kata Huang.

Dia juga menambahkan bahwa kepercayaan eksportir telah diperkuat karena ekonomi domestik China menjadi stabil dan membaik.

Data perdagangan kemungkinan dapat meningkatkan tekanan pada yuan pada saat yang sama membatasi pembangunan rumah menantang ketahanan pemulihan ekonomi bangsa. 

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok pada kuartal ketiga kemungkinan berada di 6,7 persen untuk kuartal ketiga berturut-turut, menurut survei Bloomberg terhadap para ekonom sebelum laporan resmi yang akan beredar pada19 Oktober 2016.

"Data yang konsisten dengan penurunan yang signifikan dalam volume perdagangan global," kata Kepala Strategi Valuta Asing Asia di RBC Capital Markets di Hong Kong Sue Trinh.  

Kepala ekonomi Tiongkok Macquarie Securities Ltd Larry Hu di Hong Kong, menulis dalam sebuah laporan bahwa pemerintah tiongkok harus melawan arus modal keluar yang terjadi pada tahun ini. 

"Harus memerangi harapan penyusutan pada tahun depan," ujar Hu. 

Yuan telah turun 3,4 persen terhadap dolar AS pada tahun ini, menjadi penurunan terbesar di Asia, dan melemah 6,2 persen terhadap indeks perdagangan 13 mata uang. Bank Rakyat China mengalami pelemahan tingkat referensi harian untuk hari ketujuh berturut-turut. Hal ini merupakan pelemahan terpanjang sejak Januari.



(SAW)